Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

02 April 2011

Inception



Inception dalam “The Interpretation of Dream”

Minggu lalu saya sempat hadir di 21 untuk menyaksikan ‘Inception’..
Sebelumnya saya sempat membaca sinopsis inception di SINDO, terkejut dengan temanya, segera saya mencari waktu untuk menyaksikannya. Dan inilah sedikit hasil kajian ‘inception’ yang saya lakukan berdasarkan hasil bacaan saya, terutama tema-tema tentang mimpi dalam Psikoanalisa.

Gagasan utama Inception adalah bagaimana menanamkan suatu ide atau gagasan ke dalam alam bawah sadar seseorang melalui mimpi, yang kemudian asumsinya adalah semakin dalam mimpi itu dibangun, semakin kuat gagasan itu masuk. Selain memasukkan gagasan ke dalam alam bawah sadar, inception juga diartikan dalam film ini sebagai proses mencuri informasi dari alam bawah sadar melalui mimpi. Namun proses memasuki mimpi seseorang ini hanya bisa dilakukan jika subjek sama-sama dalam kondisi tidur dan berada dalam kontrol alat yang memungkinkan mereka bertemu dalam mimpi.
Kajian:

18 Desember 2008

Mati Suri dalam Kajian Psikologi Islam



Catatan dari Kajian Forum Pengkajian Psikologi Islam 
(11 Desember 2008)

Mati Suri, dapat diartikan sebagai keadaan di mana seseorang dihidupkan kembali setelah mengalami kematian (secara fisiologis). Istilah mati suri tidak serta merta hadir tanpa adanya penjelasan, istilah ini muncul justru karena terjadi di sebagian kecil masyarakat kita. Dan karena kita semua pun paham bahwa definisi hadir karena suatu kondisi?!

Saya bisa ceritakan sedikit kisah tentang mati suri yang sedikit banyak saya ketahui untuk kemudian mengkajinya, beberapa kisah tersebut berasal dari majalah hidayah, buku dan kisah dari seorang teman dan guru. Entah benar atau tidak semua kisah tentang mati suri tersebut, tapi bagi saya jika hal ini bermanfaat dan memberi pelajaran, maka tak ada salahnya saya mempercayainya dan lebih jauh mengkritisi untuk mengkajinya lebih dalam.

16 Februari 2008

Psychology edition:
“AKU YANG AKBAR”
by: Muhammad Iqbal-

Kamu masih ingat dengan filsafatnya Iqbal tentang “Aku Yang Akbar”?!! Ya, pasti masih ingat tentunya.. Itu tentang Ego (manusia) yang berusaha untuk “menjadi” sesuatu, yang kemudian ada istilah ‘Tuhan besar’ (Allah) dan ‘tuhan kecil’ (manusia). Dengan singkat asumsi dasarnya bahwa manusia adalah sempurna dalam penciptaan dan kemampuan manusia mengelola dan menguasai alam.

Tapi sebenernya yang bakal dibahas di sini bukan “Aku Yang Akbar”-nya sang filsuf Pakistan, tapi ini tentang kecenderungan manusia yang selalu “Ingin Tampak Besar”. Jadi bukan pada “keinginan untuk menjadi”...

Disadari atau tidak kita memiliki ego untuk selalu terlihat besar atau lebih di hadapan orang lain...??! Ya, karena kita tahu bahwa orang yang besar atau memiliki kelebihan akan lebih disegani dan dihormati ketimbang manusia kecil dan bahkan mereka yang tak mampu berbuat banyak dengan kelebihan yang dimiliki. Kesadaran seseorang ketika dirinya berada pada keadaan ingin dianggap besar atau tidak, hanya berbeda pada intensitas dan kapasitas masing-masing. Ada yang memang ingin selalu dianggap lebih setiap saat, tapi ada juga yang lebih mampu menutupi egonya, (lebih tepatnya id bukan ego—dalam istilah psikologi).

Tapi istilah yang muncul kemudian dalam hal ini adalah “orang yang sombong” dan “orang yang rendah hati” (jika sombong masih diartikan sebagai keinginan untuk selalu tampak lebih). Masih sulit tampaknya menemukan orang yang jujur dengan keadaannya, rendah diri, menerima kekurangan dan tidak merasa lebih di tengah keterbatasan. Orang kaya nyaris sombong dengan kekayaannya dan orang miskin sombong dengan kemiskinannya...

Kamu tahu penyakit selanjutnya yang muncul jika manusia selalu ingin tampak lebih ketika mereka berada pada keterbatasan ataupun mereka yang memang benar-benar memiliki kelebihan?? Penyakit yang akan muncul selanjutnya adalah kesombongan yang sesungguhnya, karena kesombongan telah diartikan sebagai kecenderungan merendahkan orang lain.. Na’udzubillah...

Masih banyak lagi sebetulnya penyakit-penyakit lain yang mudah menjangkit orang-orang besar atau orang-orang yang ingin terlihat besar. Misalnya yang sudah menjadi tabiat manusia sekarang, yaitu ketika seseorang telah menjadi besar dengan suatu kedudukan, kekayaan, atau apapun itu yang materiil, maka ia akan sulit untuk merasakan kembali posisinya ketika ia kecil atau susah. Kita bisa ambil contoh dengan membaca orang-orang kaya negeri ini, mereka yang sehari-hari biasa menggunakan Mercedes Benz atau Helimousin untuk sarana transportasi, kemudian suatu waktu harus bertransportasi menggunakan angkutan umum yang super-lemot & penuh polusi, maka akan terlalu sulit bagi mereka menerima itu, dan gengsi adalah pertimbangan paling utama. Atau contoh lain, ibu-ibu yang selalu membeli sayur di superMall sekaliber BSM atau Carrefour, jika mereka diminta untuk membelinya dipasar tradisional seperti pasar ciputat, maka perasaan jijik dan norak akan mereka pertimbangkan terlebih dulu ketimbang makan siangnya. Terlebih kaum hawa dianggap memiliki gengsi lebih tinggi dibandingkan kaum adam.

Jika hal ini terus berlanjut, maka kesenjangan sosial makin menjadi-jadi di bumi nusantara. Ahmadinejad, seorang presiden paling arif yang pernah ku kenal saat ini pernah berujar, “Belum disebut orang baik jika kita belum bisa merasakan keadaan rakyat kecil”. Bahkan Rasulullah dalam banyak sabdanya telah memperingatkan manusia tentang bahaya kesombongan dan sikap ingin terlihat lebih tersebut.

Kawan, sepertinya akan ada istilah psikologi baru bagi orang-orang yang selalu ingin dianggap besar di hadapan orang lain, atau mereka yang besar dan sulit menerima yang kecil. Mungkin sejenis sindrom baru, dan sindrom-sindrom lainnya akan terus bermunculan seiring perkembangan zaman yang membesarkan manusia...

Rupanya mereka yang besar tidak menyadari adanya Dzat Yang Maha Besar. Dan besar di mata manusia tidak lebih mulia daripada besar di mata Allah.

Semoga hidayah dan petunjuk Allah senantiasa menyertai kita. Amien...

wallahu ‘alam..

Diberdayakan oleh Blogger.