16 September 2012

Menginjak Lautan #3


Catatan Perjalanan Kalimantan

13.30 pm
Selama pelayaran, kami banyak berbincang dengan Kapten Kapal, JP Makahinda. Ia menceritakan kisahnya dalam pelayaran selama 32 tahun. Diantara banyak pengalaman yang ia miliki, tak ada yang membuatnya sangat berkesan selain saat ia menghadapi ombak setinggi lebih dari 5 meter.

Kapten JP Makahinda saat itu masih sebagai ABK. Ia menghadapi kondisi saat kapal tak bisa dikendalikan karena gelombang yang tinggi, angin kencang, dan langit yang gelap. Kapal terombang-ambing dan benar-benar tak bisa dikendalikan oleh nahkoda. Seolah mereka berlayar dalam keadaan sangat mencekam!

08 September 2012

Menginjak Lautan #2

1 Agustus 2012
Aku baru saja terbangun, kaget bukan kepalang melihat suasana sudah terang. Buru-buru aku buka tirai jendela, dan ya benar saja matahari sudah terlihat muncul di ujung lautan. Segera saja aku wudhu dan shalat subuh. Shalat di atas kapal membuatku tak bisa tegap berdiri, sesekali bergoyang ke kanan dan sesekali ke kiri. Hehe

Tak ingin ketinggalan sunrise, aku berlari keluar kapal dengan menjinjing kamera. O, sunrise itu begitu indah.. Sungguh sangat indah, seolah tangan cahayanya sengaja menjulur dari kaca jendela membangunkanku dari tidur. Dari dek kapal aku abadikan saat-saat matahari itu baru saja lahir, masih segar dan lugu, seperti malu-malu ingin menampakkan diri. Sementara aku melihat jam saat itu masih pukul 06.15 am.

03 September 2012

Menginjak Lautan #1


Catatan Perjalanan Kalimantan



31 Juli 2012
Aku tak pernah membayangkan akan berada di atas lautan selama 22 jam. Ini waktu yang sangat lama, bahkan aku mengalaminya saat masih bulan puasa. Ya mengesankan! Pengalaman itu aku dapat saat mendapat tugas liputan ke Kalimantan bersama PT Pelni.


18.30 a.m - Aku sudah berada di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta menunggu penerbangan menuju Semarang. Sebelumnya kami sudah berbuka puasa dengan air seadanya sambil menunggu check in selesai. Sementara bersamaku saat ini sudah ada dua orang dari Humas PT Pelni dan wartawan TransTV, ANTV dan SCTV. Hanya aku sendiri media onlie (detikcom) yang ikut dalam liputan pelayaran PT Pelni ke Kalimantan.

19 Agustus 2012

Malam 1 Syawal; Dermaga dan Ironi Lautan



23.27 p.m.

Malam takbir, aku memilih untuk berada di sisi laut yang tenang, mencari ruang dimana jika aku berdiri aku dapat melihat ketakberbatasan alam. Maka pada garis ketakberbatasan itu aku berharap dapat melihat diriku. Ya, laut.. Namun diantara ombak yang tak terdengar bergelombang, di sekitarkku justru terdengar pikuk oleh puluhan kembang api dan petasan. Wushh... Darr..!!!  Darr..!!!  Satu persatu api itu melambung cepat ke langit gelap dan membentuk pecahan kembang berwarna biru merah dan kuning, memecah diri, bermanuver lalu habis. Seolah api-api kecil itu saling berkejaran berterbangan setinggi mungkin lalu meledakkan diri membentuk formasi bunga api. Wushh... Darr..!!!  Darr..!!! Terus menerus berderu di atas langit, semacam tengah dipertontonkan kepadaku sebuah  perayaan agung para kaum urban yang jengah dengan kepenatan.

11 Februari 2012

WISUDA; Tentang Bahagia dan [Proses] Membahagiakan




Sebuah Catatan; Iqbal

Lama aku berpikir mengapa aku harus wisuda.. Berdiri bersama ratusan orang yang secara sengaja menginginkan gelar, terbahak dan berseru mengagungkan satu pencapaian saat rektor memindahkan kuncir toga kami dari kiri ke kanan. Lalu, bilakah wisuda hanya menjadi prosesi sakral kaum akademisi?

Menjadi momentum kebahagiaan atas satu proses pencapaian gelar yang disebut sebagai kuliah.. Tapi bilakah momentum ini hanya dipandang sebagai momentum akhir dari satu pergulatan panjang kaum cendekia bernama ‘mahasiswa’ tanpa melihat apa yang telah didapat dan apa yang tidak didapat, lalu melekatkan mereka pada nilai akhir yang tanpa disadari telah mengurutkan mereka secara kategoris sebagai pintar dengan cumlaude, amat baik, baik dan buruk? Tidakkah kita cukup malu untuk merayakan satu kemenangan hanya saat mahkota kebanggaan bernama toga kita kenakan? Karena sungguhpun ini adalah gelar pertama dalam hidup yang aku peroleh, aku tak bangga dan tak menginginkannya, jika sedikitpun itu tak berarti bagi orang lain.. Pun tidak pada kebahagiaan yang dirasakan saat itu tercapai!

13 Januari 2012

Old Banten; The Lost Kingdom!

Old Banten; The Lost Kingdom!

Rabu, 11 Januari 2012
Tentang sejarah dan peradaban yang hilang.
Seharian kemarin aku menghabiskan waktu di Banten Lama, sebuah wilayah yang dulunya adalah wilayah kesultanan banten (Sultan Maulana Hasanudin). Kunjunganku ke banten lama sebetulnya karena tengah diminta bantuan untuk mencari data tentang tanah wakaf Masjid Agung Banten, namun tentu saja aku juga ingin bernostalgia dengan kesultanan.

Hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari rumah menuju Banten Lama, ini keempat kalinya aku mengunjungi banten lama sejak aku lahir di Banten. Dan selalu saja seolah ada spirit dan perasaan takjub yang aku rasakan jika hendak mengunjungi banten lama, seolah bagiku banten lama adalah wilayah kesultanan yang masih hidup, dengan sultan yang masih berkuasa, para patih dan kemegahan istana surosowan maupun kaibon. Maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang masyarakat sipil sepertiku jika memasuki wilayah kesultanan. penuh rasa takjub dan tunduk pada kebesaran Sang Sultan.

Diberdayakan oleh Blogger.