Langit mulai gelap saat aku baru saja
merampungkan tulisanku yang terakhir tentang DPR dan Audit BPK. Tanpa ku
sadari, pada huruf-huruf terakhir yang aku ketik, suara takbir terdengar
mengalun pelan mendengung di telingaku. Suara itu kemudian masuk menyusup ke
dalam pikiranku lalu mengalir dingin dalam arteri hingga ujung kaki. Suara takbir
itu menegur santun rasa rinduku untuk segera pulang dan berkumpul bersama
keluarga. O, selarut ini aku masih berada di bawah tempurung kura-kura.
25 Oktober 2012
20 September 2012
Menginjak Lautan #4
2 Agustus 2012
09.34 am
Aku
sudah berada dalam pesawat Boeing miik Kalstar dari Kalimantan menuju Semarang. Aku duduk tepat di samping jendela, dari
tempatku aku bisa melihat langit begitu jelas. Awan-awan berarak belalu-lalang
di sampingku kemudian mereka berlari di belakang pesawat meninggalkan kami
hingga tiba arakan awan yang baru. Dari tempatku juga aku bisa saksikan lautan yang
sangat luas dengan airnya yang biru, sesekali aku melihat ada titik kecil di
lautan itu. Aku pikir mungkin itu kapal nelayan, tapi dia sangat kecil
dibandingkan lautan yang begitu luas. Dari tempatku juga aku dapat melihat
puncak gunung di seberang daratan. Gunung itu kecil dibandingkan hamparan awan
yang menyelimuti. Lalu seberapa kecil aku bagi gunung, lautan dan awak-awan
yang berarak?
Dari Semarang aku menuju Jakarta dengan maskapai Garuda Indonesia. Dan setiba di Jakarta, aku melanjutkan perjalanan dengan bis umum menuju Serang. Besok baru aku ke Jakarta lagi untuk melanjutkan aktifitas liputan.
Catatan akhir:
"Pengalaman memberiku ruang untuk berpikir,
pengalaman menuntunku pada kekayaan batin,
dan pengalaman mengajarkanku filsfat waktu.."
---
---
16 September 2012
Menginjak Lautan #3
Catatan Perjalanan Kalimantan
13.30 pm
Selama pelayaran, kami banyak berbincang
dengan Kapten Kapal, JP Makahinda. Ia menceritakan kisahnya dalam pelayaran
selama 32 tahun. Diantara banyak pengalaman yang ia miliki, tak ada yang
membuatnya sangat berkesan selain saat ia menghadapi ombak setinggi lebih dari
5 meter.
Kapten JP Makahinda saat itu masih
sebagai ABK. Ia menghadapi kondisi saat kapal tak bisa dikendalikan karena
gelombang yang tinggi, angin kencang, dan langit yang gelap. Kapal
terombang-ambing dan benar-benar tak bisa dikendalikan oleh nahkoda. Seolah mereka
berlayar dalam keadaan sangat mencekam!
08 September 2012
Menginjak Lautan #2
1 Agustus 2012
Aku baru saja terbangun, kaget bukan
kepalang melihat suasana sudah terang. Buru-buru aku buka tirai jendela, dan ya
benar saja matahari sudah terlihat muncul di ujung lautan. Segera saja aku wudhu
dan shalat subuh. Shalat di atas kapal membuatku tak bisa tegap berdiri,
sesekali bergoyang ke kanan dan sesekali ke kiri. Hehe
Tak ingin ketinggalan sunrise, aku
berlari keluar kapal dengan menjinjing kamera. O, sunrise itu begitu indah.. Sungguh
sangat indah, seolah tangan cahayanya sengaja menjulur dari kaca jendela
membangunkanku dari tidur. Dari dek kapal aku abadikan saat-saat
matahari itu baru saja lahir, masih segar dan lugu, seperti malu-malu ingin
menampakkan diri. Sementara aku melihat jam saat itu masih pukul 06.15 am.
03 September 2012
Menginjak Lautan #1
31 Juli 2012
Aku tak pernah membayangkan akan berada
di atas lautan selama 22 jam. Ini waktu yang sangat lama, bahkan aku mengalaminya
saat masih bulan puasa. Ya mengesankan! Pengalaman itu aku dapat saat mendapat
tugas liputan ke Kalimantan bersama PT Pelni.
18.30 a.m - Aku sudah berada di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta menunggu penerbangan menuju Semarang. Sebelumnya kami sudah berbuka puasa dengan air seadanya sambil menunggu check in selesai. Sementara bersamaku saat ini sudah ada dua orang dari Humas PT Pelni dan wartawan TransTV, ANTV dan SCTV. Hanya aku sendiri media onlie (detikcom) yang ikut dalam liputan pelayaran PT Pelni ke Kalimantan.
19 Agustus 2012
Malam 1 Syawal; Dermaga dan Ironi Lautan
Malam takbir, aku memilih untuk berada
di sisi laut yang tenang, mencari ruang dimana jika aku berdiri aku dapat
melihat ketakberbatasan alam. Maka pada garis ketakberbatasan itu aku berharap dapat
melihat diriku. Ya, laut.. Namun diantara ombak yang tak terdengar bergelombang,
di sekitarkku justru terdengar pikuk oleh puluhan kembang api dan petasan. Wushh... Darr..!!! Darr..!!! Satu persatu api itu melambung cepat ke langit
gelap dan membentuk pecahan kembang berwarna biru merah dan kuning, memecah
diri, bermanuver lalu habis. Seolah api-api kecil itu saling berkejaran berterbangan
setinggi mungkin lalu meledakkan diri membentuk formasi bunga api. Wushh... Darr..!!! Darr..!!! Terus menerus berderu di atas
langit, semacam tengah dipertontonkan kepadaku sebuah perayaan agung para kaum urban yang jengah dengan
kepenatan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
