06 Januari 2013

Cerita Dua Anak Jalanan di Masjid Istiqlal



Jumat, 4 Januari 2013
Langit mulai gelap saat aku baru tiba di parkiran motor Masjid Istiqlal. Baru mematikan motor, aku disambut dua anak kecil berkaos yang menghampiri motor yang baru saja aku parkir. “Om, sedekah om..” kata salah seorang anak sambil menjulurkan tangannya di hadapanku. Belum sempat aku jawab, ia kembali meminta. “Om, buat beli seragam om. Sedekahnya..” ucapnya manja menarik bajuku.
“Wah, udah salat magrib belum?” tanyaku.
“Belum om.. Sedekahnya om,” jawabnya sambil memainkan kaitan helm yang aku simpan di atas kaca spion.
“Udah, salat aja dulu. Sedekahnya nggak halal kalau nggak salat, ayo salat dulu,” pintaku.
“Nggak boleh om, dilarang sama satpamnya,” kata bocah satunya lagi  serius.
“Ha? Satpam mana?” tanyaku masih duduk di atas motor.
“Itu om satpam masjid, sama ibu,” jawabnya.

Tahun Baru, Wajah Baru?


1 Januari 2013,
Manusia selalu mencari momentum, mencari waktu istimewa dimana pada waktu itu mereka bisa membuat kesepakatan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang mereka miliki. Dua orang yang berpacaran, mereka mendapati momentum pada hari jadi, mereka membuat kesepakatan untuk melupakan kesalahan masa lalu, merayakan masa kini dan bersepakat untuk menikah di masa depan. Momentum! Lalu apakah momentum itu hadir atau bisa dihadirkan?

03 Januari 2013

Safari Politik Anak Presiden #1



Catatan Perjalanan
Minggu, 11 November 2012

Pagi itu di sebuah hotel bintang lima di Surabaya, aku bersama kawan satu kamarku dari okezone rupanya menjadi orang terakhir yang berada di kamar, sementara wartawan lain sudah lebih dulu menunggu di lobi hotel. O, My God! Aku terlambat! Segera saja aku lompat dari kamar, siap-siap dan menuju lobi hotel dimana taksi yang dipesan sudah menunggu. Di dalam taksi itu masih ada wartawan yang menunggu dari Republika, Trans, dan SCTV. Dan wushhh.. Taksi ngebut menuju Jatim Expo dimana acara Partai Demokrat digelar.

Pagi itu di Surabaya terasa sangat terik meski masih pukul 06.30 WIB. Turun dari taksi, aku melihat ribuan orang mulai bergerak ke luar dari lapangan Jatim Expo, mereka kompak mengenakan kaos bertuliskan Partai Demokrat berwarna putih biru.

Petinggi Demokrat seperti Anas Urbaningrum (ketum), Ibas (sekjen), Sartono (bendum), dan Ramadan Pohan (wasekjen) berada di barisan depan masyarakat yang saat itu tengah mengikuti jalan santai bersama Partai Demokrat.

19 Desember 2012

Musim Nikah & Pacaran #2


Mari kita membahas tentang musim nikah. ‘musim’ hanya istilah, maklum bagiku ini fenomena. Aku dibuat gusar karena beberapa waktu terakhir ini agaknya cukup banyak kawan-kawanku yang menikah, padahal mereka masih seusiaku atau lebih tua sedikit dariku. Usiaku saat ini masih 24 tahun, mengapa kawan-kawanku memilih menikah di saat usia mereka masih muda? Mengapa mereka menikah muda? Tentang apa jika seseorang menikah?

Apakah menikah sama dengan pacaran? Tidak, bagiku jauh berbeda! Pacaran mungkin hanya butuh cinta, menikah? Kau perlu matang secara ekonomi, pendidikan, pemikiran, kedewasaan, dan tentu saja karir atau pekerjaan.

Musim Nikah & Pacaran #1


Duh! Rame nian orang yang nikah dan pacaran.. Kalau masuk weekend, pasti ramai tu janur kuning terpasang di tiap gang dan sudut-sudut jalan. Atau kalau bicara pacaran, ramai-ramai orang mengganti status facebook menjadi in relationship. Walah! Tapi coba kita pikir lebih jauh, tentang apa menikah & berpacaran?


Pacaran
Apa asumsi yang digunakan untuk berpacaran? Mengapa seseorang harus berpacaran? Tidak ada! Ya, seharusnya tidak ada alasan mengapa harus berpacaran, karena itu tentang cinta. “Aku mencintaimu karena aku mencintai, dan tidak ada alasan untuk mencintai”, begitu kata Paulo Coelho. Tapi aku mendapati bahwa semuanya memiliki asumsi. Pada banyak hal kita selalu memiliki alasan mengapa kita melakukan sesuatu. Aku akan cerita..

25 Oktober 2012

Cause I Promise to Come Back Home



Langit mulai gelap saat aku baru saja merampungkan tulisanku yang terakhir tentang DPR dan Audit BPK. Tanpa ku sadari, pada huruf-huruf terakhir yang aku ketik, suara takbir terdengar mengalun pelan mendengung di telingaku. Suara itu kemudian masuk menyusup ke dalam pikiranku lalu mengalir dingin dalam arteri hingga ujung kaki. Suara takbir itu menegur santun rasa rinduku untuk segera pulang dan berkumpul bersama keluarga. O, selarut ini aku masih berada di bawah tempurung kura-kura.
Diberdayakan oleh Blogger.