23 Februari 2008

Sisi hidup wa ne: "Catatan Feb '08"
DURIAN & “PERUT PANAS”

Kawan, sekitar seminggu yang lalu aku kembali menikmati durian, tepatnya pada malam hari setelah makan malam... Hmm.. Durian yang lezat walau hanya beberapa biji yang aku makan. Setiap berhadapan dengan durian, nangka atau sejenisnya, aku selalu teringat akan pesan dokter, “Kamu jangan makan durian atau nangka, itu buah yang bisa buat perut kamu panas, jadi ga baik buat perut kamu yang gampang kena penyakit...” Ya, kurang lebih seperti itu pesan terakhir dokter saat aku berurusan dengan gejala tipes untuk kedua kalinya diBogor...

Buah durian memang begitu leZat menggoda.. Aku menomorsatukan kelezatan buah yang satu ini dibandingkan dengan buah-buah yang lainnya. Aku telah belajar menikmatinya sejak sebelum menginjak lantai Sekolah Dasar, karena aku terbiasa menikmatinya sejak kecil di rumah nenek. Ya, nenek memiliki 6 pohon durian yang dulu keadaannya lebih produktif dan lebih berkualitas dibandingkan keadaannya yang sekarang. Aku masih ingat ketika kelas 4 SD aku menuliskan tentang durian nenek dalam cerpen yang menjadi tugas dari Pak Guru, kurang lebih isinya seperti ini....

“Aku berlibur di rumah nenek kemarin, nenek memiliki banyak pepohonan, ada 6 buah pohon durian, 3 buah pohon salak, pohon rambutan, pohon pepaya, dan pohon-pohon yang lainnya, aku senang berlibur di rumah nenek dan menikmati durian setiap tahunnya...”

Ya, itulah mengapa aku sangat terpikat oleh pesona buah yang memiliki bau harum yang menyengat ini.

Nah, kembali pada durian yang aku makan minggu lalu...

Kawan, sulit bagiku untuk mencerna pesan dokter yang melarangku menikmati durian, karena sejak bersentuhan dengan durian, tak pernah ada istilah perut panas untuk perutku. Karena alasan ini, dengan sedikit was-was aku kembali menikmati lezatnya durian. Dan ternyata betul dugaanku, tak pernah ada namanya perut panas bagiku selesai menikmati durian malam itu.

Setelah membantai durian, kegiatan lalu aku lanjutkan dengan kebiasaan rutinku untuk menghabiskan waktu malam, yaitu berhadapan dengan komputer. Ya, beriseng-iseng dengan komputer.

Setelah beberapa jam bertinju mata dengan layar komputer, tepatnya jam 12 malam aku mulai merasakan ke”ANEH”an pada perutku. Sepertinya ada sesuatu yang akan mengancam ketenanganku malam ini. Ya, itu adalah rasa sakit pada perut, tapi saat itu aku masih bisa menahannya, karena aku terbiasa dengan serangan teror pada perutku kapanpun itu terjadi. Tapi dalam waktu beberapa menit kemudian, keanehan itu makin menjadi-jadi, menjadi sebuah tekanan yang menyakitkan pada perutku. Komputer aku matikan, dan segera aku raih bantal untuk bergegas tidur, karena dengan tidur aku akan lupa segalanya, termasuk rasa sakit yang aku alami.

Setelah beberapa menit bergelut dengan rasa sakit, aku tertidur juga. Tapi tak lama kemudian tepat pukul 1 dini hari atau satu jam sejak tertidur, aku terbangun. Lagi-lagi rasa sakit pada perut itu makin menggila. Aku mulai sadar akan durian yang telah aku makan... ‘Uuhh...mungkin ini yang dinamakan dokter dengan perut panas setelah makan durian’, gumamku.

Menit berganti, rasa sakit itu makin menjadi sebuah goncangan dan serangan menyakitkan yang belum pernah aku alami sebelumnya.. Pukul 2 malam, aku mencari obat yang sekiranya bisa aku makan, pada sebuah kantong plastik ada beberapa obat yang aku terima dari dokter karena aku hampir terkena gejala tipes minggu lalu, dan jika betul maka itu adalah gejala tipes untuk ketiga kalinya. Dari sekian banyak obat yang terbungkus, aku menemukan sebuah tablet yang tak begitu ku kenal namanya tapi dari bungkus luarnya yang bergambar lambung aku yakin itu obat untuk lambung. Obat itu hanya ada satu, sisa konsumsiku minggu sebelumnya.

Pukul 2 lebih dini hari, mulutku mulai beristighfar dan berdo’a agar dihentikan dari sakit yang tak pernah aku rasakan begitu sakitnya, sungguh itu rasa sakit yang terlalu berlebihan untuk ditahan. Tak mungkin aku membangunkan orang tuaku malam itu, karena jika mereka bangunpun tak banyak yang bisa mereka perbuat, justru itu hany akan mengganggu mereka. Jika ini hanya serangan perut biasa, maka aku yakin dalam beberapa jam ini akan reda dengan sendirinya, dan aku yakin akan itu...

Menjerit tanpa suara dan meronta tapi berbisik, itu yang aku lakukan malam itu. Aku semakin yakin rasa sakit itu karena durian yang aku makan, karena berulang kali aku bersendawa (Rusia: teurab). Sendawa itu yang aku yakini karena kelebihan gas dalam perut.

Astaghfirullah.... KAPOK.....!! BENER2 KAPOK MAKAN DUREN....!!!

Malam itu juga aku nyatakan perang terhadap durian dan aku nyatakan putus terhadap segala hal yang berkaitan secara langsung ataupun tidak langsung atas durian.

Pukul 3 malam, perutku mulai tenang kembali, goncangan itu berangsur berkurang... Dan sekitar setangah jam kemudian, aku baru bisa menikmati mimpi indahku kembali...

Siang harinya, aku ceritakan pada Ibuku tentang sakit perut yang hebat tadi malam. Ternyata jauh lebih menyakitkan serangan dari sebuah buah bernama durian. Walaupun rambutan pun pernah memberikanku pengalaman buruk hingga mengantarkanku pada sebuah tempat bernama rumah sakit selama 2 hari.

--------- Beberapa hari kemudian, aku dikejutkan dengan kedatangan 7 buah durian ke rumahku. Upss... paan neh??

Baru beberapa hari aku mendapat pelajaran berarti tentang durian. Kali ini durian kembali menguji ikrarku. Aku benar-benar dihadapkan pada inferioritas. Memilih satu jalan dari 2 pilihan jalan yang masing-masing menawarkan resiko yang tidak kecil.

Maka dengan penuh keraguan, aku memilih untuk tidak melewatkan durian yang hadir saat itu juga. Sebuah pilihan yang berat!! Untuk meminimalisir serangan yang akan mengancam selesai membantai durian, aku membuat sebuah strategi baru yang baru kali ini akan ku cobakan. Aku memasukkan 2 sendok nasi ke perutku sebagai langkah awal, kemudian 2 durian aku makan, selanjutnya secara bergantian 1 sendok nasi dan 1 buah durian atau memakan nasi dan durian secara bersamaan... Sebetulnya durian kali ini lebih banyak yang aku makan dibandingkan beberapa lalu yang menyebabkan sebuah serangan keji di sekitar perutku.

Selesai menyantap durian siang itu, aku kembali beraktivitas seperti biasa di rumah, tapi perasaan khawatir akan serangan ulang berupa “panas perut” dari durian membuatku was-was. Satu jam berlalu... 2 jam ku lewati..... 3 jam..... 4 jam.... 5 jam....

1 hari.... 2 hari.... YESSS!!!! “Panas Perut” tidak lagi berani menyerangku...!!!

Ternyata self defense mechanism yang aku lancarkan cukup signifikan untuk menahan serangan mematikan dari durian... hehehe... HOREEE......!!!

Maka saat ini aku menghapus ikrarku... dan aku akan pertimbangkan larangan dokter agar aku menjauh dari durian dan buah yang memiliki kandungan gas tinggi jika dimakan... ^o^

NB: Beberapa menit yang lalu sebelum ke NET tuk posting ini, aku melihat durian yang dijajakan abang2 di pinggir jalan.. kayaknya kRen tuh.. hehe..

-www.gaZzebo.com-

18 Februari 2008

“Tentang 3 Kegilaan”
Kawan, aku begitu merasa memiliki keceriaan bahkan kebanggaan tersendiri dengan catatan2 perjalanan yang ku miliki.. Uuhhh... itu benar-benar begitu berarti.
  • UAS dan Kejaiban Bersedekah
  • Ngakak di Bawah Monas
  • Baduy : We’re Coming..
3 rangkaian cerita yang terjadi dalam waktu kurang dari seminggu itu adalah "kegilaan". Ne dia kenapa disebut begitu...
  • Itu terjadi di tengah2 berlangsungnya UAS Ujian Akhir Semester (sem 3) yang dengan kerja keras sangat kami harapkan kesuksesannya.
  • Semua Ide itu muncul benar2 mendadak, tanpa persiapan sebelumnya. “UAS dan Kejaiban Bersedekah”, idenya muncul 1 jam sebelumnya, yaitu ketika kami sedang menikmati makan siang dengan nangka goreng. “Ngakak di Bawah Monas”, idenya muncul secara tiba2 dari mulut Ade selesai shalat maghrib, dan ketika itu juga terwujud. Terakhir menginjak tanah Baduy, idenya baru muncul pada malam harinya ketika kami sedang berjalan tak berarah di tengah Jakarta.
  • Semuanya terwujud hanya bermodal keberanian, jiwa petualang dan dukungan dari sisa uang jajan yang seadanya. Mengunjungi Baduy yang memakan waktu 7 jam pulang-pergi memaksa seluruh kawanku, harus menginap di rumah Eja di Serpong, karena mereka tidak menemukan ATM di tengah jalan dan tidak ada kendaraan yang beroperasi pada tengah malam di saat mereka akan kembali pulang ke Jakarta.
  • Tidak ada kegiatan yang kami lalui tanpa ber-Ngakak ria... Dalam keadaan sesulit apapun, dengan kekonyolan semuanya terasa ceria...
Entah mungkin kami juga terinspirasi dari tetraloginya laskar pelangi yang memiliki catatan petualangan jauh lebih menantang dalam edensor dan yang menceritakan tentang gila itu ada 40 macam dalam laskar pelangi... Karena beberapa hari sebelum semua perjalanan ini terlaksana, aku dan hampir seluruh teman2ku yang lain selesai membaca 3 buku tetralogi laskar pelangi... Hmm.. entahlah.. yang jelas catatan perjalananku dan tetralogi itu mengasyikkan.. Hehe.. Thx2 banyak pRen yang dah ngasih hal-hal baru bagiku, itu benar-benar mengasyikkan... Thx 4 everything deh... ^o^

16 Februari 2008

Psychology edition:
“AKU YANG AKBAR”
by: Muhammad Iqbal-

Kamu masih ingat dengan filsafatnya Iqbal tentang “Aku Yang Akbar”?!! Ya, pasti masih ingat tentunya.. Itu tentang Ego (manusia) yang berusaha untuk “menjadi” sesuatu, yang kemudian ada istilah ‘Tuhan besar’ (Allah) dan ‘tuhan kecil’ (manusia). Dengan singkat asumsi dasarnya bahwa manusia adalah sempurna dalam penciptaan dan kemampuan manusia mengelola dan menguasai alam.

Tapi sebenernya yang bakal dibahas di sini bukan “Aku Yang Akbar”-nya sang filsuf Pakistan, tapi ini tentang kecenderungan manusia yang selalu “Ingin Tampak Besar”. Jadi bukan pada “keinginan untuk menjadi”...

Disadari atau tidak kita memiliki ego untuk selalu terlihat besar atau lebih di hadapan orang lain...??! Ya, karena kita tahu bahwa orang yang besar atau memiliki kelebihan akan lebih disegani dan dihormati ketimbang manusia kecil dan bahkan mereka yang tak mampu berbuat banyak dengan kelebihan yang dimiliki. Kesadaran seseorang ketika dirinya berada pada keadaan ingin dianggap besar atau tidak, hanya berbeda pada intensitas dan kapasitas masing-masing. Ada yang memang ingin selalu dianggap lebih setiap saat, tapi ada juga yang lebih mampu menutupi egonya, (lebih tepatnya id bukan ego—dalam istilah psikologi).

Tapi istilah yang muncul kemudian dalam hal ini adalah “orang yang sombong” dan “orang yang rendah hati” (jika sombong masih diartikan sebagai keinginan untuk selalu tampak lebih). Masih sulit tampaknya menemukan orang yang jujur dengan keadaannya, rendah diri, menerima kekurangan dan tidak merasa lebih di tengah keterbatasan. Orang kaya nyaris sombong dengan kekayaannya dan orang miskin sombong dengan kemiskinannya...

Kamu tahu penyakit selanjutnya yang muncul jika manusia selalu ingin tampak lebih ketika mereka berada pada keterbatasan ataupun mereka yang memang benar-benar memiliki kelebihan?? Penyakit yang akan muncul selanjutnya adalah kesombongan yang sesungguhnya, karena kesombongan telah diartikan sebagai kecenderungan merendahkan orang lain.. Na’udzubillah...

Masih banyak lagi sebetulnya penyakit-penyakit lain yang mudah menjangkit orang-orang besar atau orang-orang yang ingin terlihat besar. Misalnya yang sudah menjadi tabiat manusia sekarang, yaitu ketika seseorang telah menjadi besar dengan suatu kedudukan, kekayaan, atau apapun itu yang materiil, maka ia akan sulit untuk merasakan kembali posisinya ketika ia kecil atau susah. Kita bisa ambil contoh dengan membaca orang-orang kaya negeri ini, mereka yang sehari-hari biasa menggunakan Mercedes Benz atau Helimousin untuk sarana transportasi, kemudian suatu waktu harus bertransportasi menggunakan angkutan umum yang super-lemot & penuh polusi, maka akan terlalu sulit bagi mereka menerima itu, dan gengsi adalah pertimbangan paling utama. Atau contoh lain, ibu-ibu yang selalu membeli sayur di superMall sekaliber BSM atau Carrefour, jika mereka diminta untuk membelinya dipasar tradisional seperti pasar ciputat, maka perasaan jijik dan norak akan mereka pertimbangkan terlebih dulu ketimbang makan siangnya. Terlebih kaum hawa dianggap memiliki gengsi lebih tinggi dibandingkan kaum adam.

Jika hal ini terus berlanjut, maka kesenjangan sosial makin menjadi-jadi di bumi nusantara. Ahmadinejad, seorang presiden paling arif yang pernah ku kenal saat ini pernah berujar, “Belum disebut orang baik jika kita belum bisa merasakan keadaan rakyat kecil”. Bahkan Rasulullah dalam banyak sabdanya telah memperingatkan manusia tentang bahaya kesombongan dan sikap ingin terlihat lebih tersebut.

Kawan, sepertinya akan ada istilah psikologi baru bagi orang-orang yang selalu ingin dianggap besar di hadapan orang lain, atau mereka yang besar dan sulit menerima yang kecil. Mungkin sejenis sindrom baru, dan sindrom-sindrom lainnya akan terus bermunculan seiring perkembangan zaman yang membesarkan manusia...

Rupanya mereka yang besar tidak menyadari adanya Dzat Yang Maha Besar. Dan besar di mata manusia tidak lebih mulia daripada besar di mata Allah.

Semoga hidayah dan petunjuk Allah senantiasa menyertai kita. Amien...

wallahu ‘alam..

Diberdayakan oleh Blogger.