11 Februari 2012

WISUDA; Tentang Bahagia dan [Proses] Membahagiakan

,

WISUDA;

TENTANG BAHAGIA DAN [PROSES] MEMBAHAGIAKAN

Sebuah Catatan; Iqbal

Lama aku berpikir mengapa aku harus wisuda.. Berdiri bersama ratusan orang yang secara sengaja menginginkan gelar, terbahak dan berseru mengagungkan satu pencapaian saat rektor memindahkan kuncir toga kami dari kiri ke kanan.

Lalu, bilakah wisuda hanya menjadi prosesi sakral kaum akademisi?

Menjadi momentum kebahagiaan atas satu proses pencapaian gelar yang disebut sebagai kuliah.. Tapi bilakah momentum ini hanya dipandang sebagai momentum akhir dari satu pergulatan panjang kaum cendekia bernama ‘mahasiswa’ tanpa melihat apa yang telah didapat dan apa yang tidak didapat, lalu melekatkan mereka pada nilai akhir yang tanpa disadari telah mengurutkan mereka secara kategoris sebagai pintar dengan cumlaude, amat baik, baik dan buruk? Tidakkah kita cukup malu untuk merayakan satu kemenangan hanya saat mahkota kebanggaan bernama toga kita kenakan? Karena sungguhpun ini adalah gelar pertama dalam hidup yang aku peroleh, aku tak bangga dan tak menginginkannya, jika sedikitpun itu tak berarti bagi orang lain.. Pun tidak pada kebahagiaan yang dirasakan saat itu tercapai!

Karena ada makna yang telah diletakkan jauh sebelum kita memutuskan untuk mengakhiri proses panjang bernama kuliah.. Ada tujuan dan harapan yang telah diukir juga jauh sebelum bangunan bernama kampus berada pertama kali dibawah sepatu kita.. Juga ada idealisme dan nilai yang menjadi pegangan agar proses itu tidak berjalan liar dan serampangan.. Bahkan ada idealisme untuk mengakhiri proses panjang tersebut dengan satu karya akhir bernama ‘skripsi’ atau ‘scriptsweet’ atau juga ‘scriptshit’.

Tapi bilakah kesemua itu tidak perlu dipikirakan dan acuh berbelit dengan nilai-nilai yang kemudian diketahui sebagai jati diri dan karakter? Karena kemudian aku mengetahui bahwa pada sebagian besarnya yang diinginkan tak lain hanya SELESAI dan BAHAGIA!! O, gerangan mahasiswa model apa ini.?!

Tidakkah BAHAGIA hanyalah bagian akhir dari Proses Membahagiakan?!!

Lagi aku berpikir… Mengapa aku harus merasakan kebahagiaan ini.. Karena percayalah tak mungkin bisa aku rasakan kebahagian berwisuda ini tanpa mengalami proses mengetahui, mengalami, dan menjadi sebelumnya. Proses amat panjang yang tidak dilihat, proses yang tidak dievaluasi, proses itu pula yang enggan orang pikirkan. Padahal yang menjamin masa depan seseorang bukanlah akhir dari apa yang didapat saat proses itu usai, melainkan karakter selama menjalani proses, karena karakter itu adalah menetap dan bagian dari diri! Sementara bentuk akhir dari proses serupa IPK dan toga, hanya menjadi sesuatu yang berada di luar diri!

Ah, maaf aku tidak sedang menyangkal akhir yang aku peroleh sehingga menggerutu dengan term ‘hasil’ dan ‘proses’, tapi pun demikian, akhir dari proses kuliahku tidak mengecewakan.. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kita perlu tahu mana yang disebut sebagai bahagia dan mana ‘proses’ membahagiakan. Karena pada proses itulah kita menjadi, bukan pada bahagianya!

Pada akhirnya aku tak berhak panjang bertutur tentang proses membahagiakan yang telah aku lalui, yang harus aku lakukan adalah berterima kasih pada manusia-manusia yang telah menjadikanku mengalami kebahagiaan ini.. Pada banyak hal yang telah membuatku ‘menjadi’.. Juga pada tiap ritme ruang yang berada dalam prosesku selama ini, terimakasih..

Aku ingin secara khusus berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa selama proses membahagiakan berlangsung, (karena di skripsi aku tidak diperkenankan menyebut nama2 di bawah ini):

1. Pada kawan-kawan di fakultas psikologi, aku benar-benar berbangga dan tersanjung berada di antara kawan2 yang cerdas dan berkepribadian. Banyak cerita aku peroleh dari pergaulan bersama kawan2, tentu ketajaman analisa aku peroleh juga dari diskusi di antara kawan2 semua. Terimakasih untuk segalanya. Dan permohonan maaf yang sangat.

2. Teman2 IMM Ciputat. Sungguh aku tak menyangka bisa memiliki ikatan emosional jauh lebih kuat dengan IMM dibandingkan dengan lingkungan lainnya selama aku kuliah. IMM dengan sendirinya menjadi keluargaku, sehingga aku merasa memiliki kesan lebih kuat saat selesai dari IMM dibandingkan saat selesai dari Fakultas Psikologi. Terimakasih.. Dan permohonan maafku.. Selamanya aku mencintai IMM.

3. Pada ribuan demonstran yang pernah berbaris bersama di jalanan, aku tak pernah merasa sangat berbahagia sampai saat aku menjadi bagian dari penentang ketidakadilan. Terimakasih atas ketulusan dan keberanian kawan2.

4. Kawan2 yang sekali dua pernah akrab dan berhubungan denganku, kawan2 IMM di Aceh, Kalimantan, Sulewesi sampai Papua, kawan2 BEM, kawan2 FP2I, dan secara khusus kawan2 CLM, permohonan maafku tidak bisa melanjutkan kegiatan literasi di kampus karena tugas IMM. Terimakasih atas waktu dan kesungguhannya. Dan permohonan maafku yang sangat.

5. Pada banyak naluri yang tersakiti, sungguhpun aku sangat keji dan tak pandai menjaga sikap dan tutur, namun sedikitpun aku tak pernah berniat untuk menanam luka pada seorangpun. Terimkasih atas waktu dan penghargaannya.. Permohonan maaf dan sesal yang sangat.

6. Pada sayup-sayup tak terjamah yang mengiringi keselamatan dan keberhasilanku pada beberapa momentum selama proses membahagiakan, terimakasih.

7. Pada segalanya. Terimakasih dan maaf..

Sungguh aku mengharapkan bisa mengalami wisuda ini tiap hari, karena aku ingin sekali tiap hari membahagiakan orang-orang di sekitarku.. Tapi bilakah itu tidak wisuda, aku pasti berusaha dengan sebentuk momentum kebahagiaan lain.

Maaf aku sedang meracau,

Terimakasih dan maaf untuk segalanya..

Selamat Wisuda,

Serang, 30 Januari 2012

Read more

13 Januari 2012

Old Banten; The Lost Kingdom!

,

Old Banten; The Lost Kingdom!

Rabu, 11 Januari 2012

Tentang sejarah dan peradaban yang hilang.

Seharian kemarin aku menghabiskan waktu di Banten Lama, sebuah wilayah yang dulunya adalah wilayah kesultanan banten (Sultan Maulana Hasanudin). Kunjunganku ke banten lama sebetulnya karena tengah diminta bantuan untuk mencari data tentang tanah wakaf Masjid Agung Banten, namun tentu saja aku juga ingin bernostalgia dengan kesultanan.

Hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari rumah menuju Banten Lama, ini keempat kalinya aku mengunjungi banten lama sejak aku lahir di Banten. Dan selalu saja seolah ada spirit dan perasaan takjub yang aku rasakan jika hendak mengunjungi banten lama, seolah bagiku banten lama adalah wilayah kesultanan yang masih hidup, dengan sultan yang masih berkuasa, para patih dan kemegahan istana surosowan maupun kaibon. Maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang masyarakat sipil sepertiku jika memasuki wilayah kesultanan. penuh rasa takjub dan tunduk pada kebesaran Sang Sultan.

Sepanjang perjalanan menuju banten lama, aku disambut rindangnya pohon asam di kiri dan kanan jalan. Arah perjalanan menuju banten lama adalah ke utara Banten, lebih tepatnya ke arah laut. Saat tiba dari jarak sekitar 1 km, aku sudah bisa melihat menara masjid agung banten, banten lama. Memang yang menjadi daya tarik kawasan banten lama adalah menara masjid agung, yang kemudian menjadi ikon Propinsi Banten. Ya, serupa monas milik Jakarta dan jam gadang milik padang.

Memasuki kawasan masjid agung banten, perhatianku langsung tertuju pada menara masjid agung banten. Luar biasa takjubnya aku dengan menara yang menjadi monumen kesultanan banten ini. Aku mengeluarkan kamera, dan segera mengabadikannya, seolah aku ingin menyimpan kejayaan sultan dalam ingatanku melalui foto menara masjid agung banten. Setelah beberapa saat mengagumi monumen sang sultan, kemudian perhatianku teralihkan oleh anak-anak kecil yang ramai berenang di kolam depan masjid. Kolam tersebut sesungguhnya hanya kolam yang (mungkin) dulunya adalah tempat membersihkan kaki sebelum masuk masjid. Namun kini digunakan anak-anak untuk berenang dan bermain. Dan lihat, pandai sekali mereka berenang, padahal aku menaksir kolam itu dalamnya 2 meter. (rupanya memang karena daerah ini berada dekat laut. he).

Beberapa orang tua aku lihat baru saja keluar dari masjid, nampaknya baru saja ada pengajian atau semacam acara yang digelar oleh masjid. Memasuki masjid, aku langsung pada tujuan kedatanganku ke banten lama, yaitu mencari tahu dimana kantor wakaf masjid agung banten (disebut juga kantor kenadziran).

“Kalau kantornya engga ada, tapi kalo mau cari informasi, itu ada bapak Tubagus Ismetullah ketua kenadziran”. ujar seorang petugas masjid menunjuk pada seorang bapak yang tengah duduk santai bersama dengan beberapa orang lain di sampingnya. Ya, Tubagus Ismetullah, ketua kenadziran masjid agung banten yang baru saja diangkat menggantikan ketua periode sebelumnya, aku mengetahui namanya dari internet beberapa saat sebelum menuju kesini.

“Terimakasih”, ujarku pada petugas itu.

Aku mempertimbangkan perlu lebih dari 30 menit untuk mewawancarainya, tapi 30 menit lagi akan berkumandang adzan dzuhur.. Hm.. Tapi mari aku coba

“Assalamu’alaikum..” sapaku sambil menjulurkan tangan

“Wa’alaikumsalam..” jawab bapak berpeci putih tersebut sambil mengalihkan pandangnya dari Hp yang sebelumnya ia pegang.

“Dengan pak Tubagus Ismetullah?” tanyaku.

“Ya.. ya.. Siapa ini” ujarnya ramah sambil mengubah posisi duduknya menjadi sila.

“Saya Iqbal, dari IAIN Banten. Kebetulan sedang ada tugas untuk mencari tahu tentang kenadziran masjid agung banten pak”

“O, ya.. Apa yang bisa dibantu Iqbal?” Jawabnya makin ramah.

“Saya ingin tahu, berapa pak ya luas seluruh tanah wakaf masjid agung banten ini, lalu yang sudah terpakai berapa dan yang belum berapa”. Aku langsung bertanya pada inti pembicaraan.

“Tanah wakaf disini adalah tanah wakaf dzuriyyat, artinya bukan wakaf dari perorangan, melainkan tanah wakaf milik kesultanan banten yang dijaga sampai sekarang. Untuk saat ini kebetulan saya yang diminta menjadi ketua kenadziran (wakaf-red).” Ujar Pak Tubagus mulai memberikan penjelasan. Beliau adalah keturunan Sultan Maulana Hasanudin, dan saat ini menjadi orang yang dipercaya untuk mengelola tanah wakaf kesultanan. Keramahannya membuatku seolah aku sedang berbicara dengan sultan.. Dan ya seandainya kesultanan masih hidup, maka beliaulah sultan banten saat ini, karena beliau ketua kenadziran.

“Ada program apa pak untuk tanah wakaf yang belum dikelola?” Aku melanjutkan pertanyaan.

“Yang sudah dikelola ya masjid ini, pemakaman dan alun-alun, untuk tanah yang belum dikelola masih berupa persawahan dan perkebunan. Saya merencanakan dalam lima tahun ini untuk membangun panti asuhan dan pondok pesantren modern di tanah yang belum dikelola tersebut, karena memang tanah wakaf kan harus produktif. Insya Allah semoga tercapai..” jawabnya optimis.

“Ya, dan sebetulnya kawasan Banten Lama ini sangat potensial pak untuk menjadi kawasan wisata, lebih dari sekedar masjid dan alun-alun”. Ujarku berasumsi.

“O, ya. Saya juga berharap ke depannya orang yang berkunjung ke banten lama ini adalah dari kalangan menengah ke atas, karena sampai sekarang yang datang 80% adalah kalangan menengah ke bawah..” ujarnya mengungkapkan fakta.

“Saya sebetulnya kuliah di Jakarta Pak, hanya ini sedang ada tugas dari IAIN. Nah, saya pernah membawa teman-teman saya dari Jakarta (IMM Ciputat) ke sini, karena waktu itu hari minggu jadi sangat ramai. Dan ternyata masyarakat yang berkunjung ke sini sebagian besar hanya untuk berziarah, bukan karena nilai sejarah yang ada di banten lama.. Nah, seharusnya mereka bisa datang ke banten lama karena memang nilai sejarah yang besar yang dimiliki banten lama, bukan karena hanya berziarah”. Aku makin bersemangat berdiskusi dengan Sultan Banten ini.

“Ya, memang masyarakat yang datang kesini adalah karena pendekatan ideologis (agama), maka saya sudah merencakanan untuk memindahkan pedagang-pedagang yang ada disini agar masjid agung banten ini terlihat lebih bersih dan luas. Alun-alun banten lama juga harus difungsikan” jelasnya.

“Ya, catatan sejarah menunjukkan banten lama memiliki peran penting saat menahan datangnya Belanda dari Selat Sunda.. Banten Lama ini punya peradaban yang tinggi sejak saat kesultanan, dan seharusnya sekarang masih hidup pak”. Jelasku.

“Betul, dulu di Pamarican itu Belanda ditahan oleh warga banten. Oleh karenanya tadi selain membersihkan masjid dari para pedagang, saya juga ingin menjadikan masjid ini sebagai pusat keilmuan, seperti tadi yang barusan dilaksanakan, pengajian. Saya mencoba untuk menghidupkannya kembali. Saya ingin mengundang akademisi dan mahasiswa, cobalah mereka mulai melakukan diskusi di masjid ini, jangan hanya dikampus, jadi banten lama ini hidup” jelasnya bersemangat setelah sebelumnya menunjuk pada daerah yang ia sebut sebagai Pamarican.

“Ya, betul pak, menghidupkan peradaban dengan keilmuan, maka seharusnya anak-anak itu tidak berenang di kolam masjid pak, tapi mereka duduk bersama orang tuanya mengikuti pengajian atau diskusi, sehingga nanti mereka yang akan melanjutkan”. Jelasku

“Ya, kita harus juga mempersiapkan regenerasi” tambah bapak dengan dua handphone di depannya tersebut.

Aku sangat menikmati diskusi dengan Pak Tubagus Ismetullah ini, idealismeku tentang Banten aku utarakan secara terbuka seluruhnya, dan beliau sangat antusias dalam pembicaraan sampai tak terasa bedug telah ditabuh yang menandakan telah masuk waktu shalat dzuhur. Tapi rupanya bapak ini masih bersemangat berdiskusi walau adzan telah berkumandang. Sampai ada jeda dalam diskusi aku mohon pamit.

Pak, terimakasih ini untuk informasi dan obrolannya..”

“O, ya..ya.. terimkasih Iqbal.. Nanti smskan nomor Iqbal ke HP saya ya..” aku agak terkejut saat beliau meminta nomor HPku

“O, ya pak, nanti saya sms. Saya mohon izin untuk ambil wudhu dulu pak” aku mulai bangkit berdiri.

“O. ya, mari.. Silahkan Iqbal..” ia mempersilahkanku berdiri sambil menyatukan kedua tangannya dan menunduk, seolah ia sedang berhadapan dengan sultan.. O, my God.! Ramah sekali beliau, sampai-sampai ia menundukkan kepala untuk mempersilahkanku pamit. Padahal beliaulah yang menjadi sultan, mungkin seharusnya aku yang menyatukan kedua tangan dan menunduk padanya. (Ini mungkin budaya sultan banten dulu, sama seperti di Jawa.. Hanya saja aku baru melihatnya di Banten).

Usai shalat dzuhur, aku menikmati pemandangan yang cerah di pelataran masjid agung. Aku melihat “sultan” yang tadi berdiskusi denganku berjalan meninggalkan masjid sambil diikuti (mungkin dikawal) oleh beberapa orang di belakangnya. Beliau memang sultan banten saat ini! gumamku.

Masih banyak waktu bagiku untuk menikmati banten lama. Dan memang aku masih memiliki satu tujuan lagi hari ini, menuju Istana Kaibon! Ya, sejak menjadi orang Banten (lahir-red) aku tak pernah melihat istana Kaibon secara langsung, kecuali melalui internet. Di Istana Kaibon terdapat pagar istana kesultanan yang saat ini diadaptasi menjadi gapura-gapura di beberapa perumahan dan perkantoran di Banten (kecuali di Tangerang). Aku makin penasaran karena aku yakin reruntuhan dari istana kaibon adalah warisan sejarah yang besar dan berharga.

Istana kaibon terpisah dari masjid agung banten, kira-kira berjarak 500 meter. Seseorang memberikanku petunjuk bahwa istana kaibon berada tepat di pinggir jalan. Dan ya, tak lama aku mendapati reruntuhan istana itu berada tepat di pinggir jalan dan dikelilingi oleh pagar besi. Aku mencari jalan masuk, barangkali ada tiket masuk atau lahan parkirnya sekitar sini, karena tentu saja ini adalah objek wisata.. Tapi aku terkejut, ternyata istana seluas kira-kira 2 hektar yang dulunya adalah simbol kebesaran kerajaan Banten ini, tak memiliki penjaga, lahan parkir apalagi tiket masuk, hanya ada sebuah rumah kecil yang berdiri di sebelah kanan tepat setelah pintu masuk. Orang-orang bebas keluar masuk ke kawasan ini, dan lihat saja, warga sekitar menjemur pakaian mereka di pagar2 yang mengelilingi wilayah reruntuhan istana kaibon.

Aku memarkikan motor di samping rumah tadi, dan bergegas mendekat reruntuhan Istana. Lagi-lagi ada perasaan takjub dan bangga bisa berada di reruntuhan istana kaibon, sedikit berlari aku buru-buru ingin mengabadikannya dalam kamera yang aku bawa. Namun di antara perasaan takjub tersebut selalu saja terselip perasaan miris, bagian kanan reruntuhan istana kaibon, tergenang air kira-kira 30cm, belakangan aku baru tahu bahwa bagian kanan istana kaibon ini akan selalu tergenang air jika turun hujan. Tampak anak-anak dari kampung di sekitar sini tengah bermain-main dengan air genangan.

Aku mengabadikan seluruh sisi reruntuhan istana, lagi tak ada penjaga yang aku lihat, hanya anak-anak yang bermain, bberapa ekor kambing yang juga ‘berkunjung’ ke reruntuhan istana, iringan bebek, dan satu orang kakek yang tengah mengambil rumput yang tumbuh di sekitar istana, mungkin juga beliau yang mengembalakan kambing-kambing dan itik-itik yang tengah ‘bermain’ di kawasan istana kaibon ini.

Lama aku berfikir, bagaimana mungkin warisan kesultanan banten ratusan tahun lalu ini dibiarkan teronggok dan melapuk tanpa perawatan.!! Menjadi obyek wisata pun tidak..!! Ingin berteriak, “Ini adalah SEJARAH dan HARTA BERHARGA milik BANTEN..!!!” Pada anak-anak yang tengah bermain, aku turut bergurau dengan mereka, “ini dulunya kan istana kesultanan ya..” “iya..” jawab mereka sambil mengayuh sepeda menerjang banjir yang menggenangi sisi istana kaibon.

Setelah lama menjelajahi sisi-sisi istana, tak terasa waktu sudah hampir ashar.. Aku bergegas kembali pulang.. Selama perjalanan pulang, aku menggerutu; Aku yakin ada sesuatu yang bisa aku lakukan. Tak rela aku membiarkan warisan sultan digenangi oleh air, dijadikan tempat bermain, dikotori kotoran kambing dan itik, dan dibiarkan melapuk habis dimakan waktu!!

FOTO2 BANTEN LAMA

Read more

19 Juni 2011

“Sembunyi Untuk Hidup Kembali”

,
.

: Ahmad Ragen

.

Tuangkan anggur suka cita pada cawan-cawan kegelisahan,

Penuhi piala-piala kepenatan dengan cerita indah kebahagiaan,

Dan hidangkan buah keceriaan di atas meja kesedihan,

Karena diri yang terpuruk telah bangkit membusungkan hati!

.

Maka dendangkanlah lagu kebahagiaan pada jiwa-jiwa yang rindu kasih sayang,

Berikan tongkat kekuatan pada hati yang papa untuk berdiri,

Dan angkatlah derajat para budak yang berhati raja

Karena hari ini adalah hari kemenangan para pemimpi yang sedang diuji!

.

Bawakan jubah kemenangan kepada para pejuang yang tersesat,

Kenakan pada mereka tombak semangat dan tameng keyakinan,

Dan kobarkan longlongan panjang perjuangan agar mereka tangguh saat berperang,

Karena sungguh kemenangan telah mereka dapatkan sebelum mereka berjuang!

.

Lalu obati hati para pujangga yang terluka dan mengurung diri,

Kabarkan kepada mereka tentang arti cinta dan pengorbanan,

Lalu biarkan malaikat hati bersemayam membanggakan diri

Karena sungguh cinta yang mati telah bersemi meyakinkan diri!

.

Maka Hai..!! Lihatlah siapa yang baru bangkit dari keterpurukan!

Seorang budak yang nalurinya mati… Pejuang yang tersesat…

Dan pujangga yang hatinya remuk tertusuk karakter yang agung!

.

Saat sembunyi menjadi waktu tertunda untuk hidup kembali;

KarenaTuhan selalu punya cara untuk menyayangi hambanya!

.

Dibawah langit kosan P’Ipung, 14 Juni 2011

Read more

Sembunyi Sampai Mati!

,

"Sembunyi Sampai Mati!"
: Ahmad Ragen

Kau memaksaku menari…

Mari, aku tunjukkan tari kekalahan seorang budak yang nalurinya mati

karena cita-citanya terampas saat Tuhan mengujinya!

.

Lalu kau memaksaku menyanyi…

Maka aku tunjukkan nyanyian seorang pejuang yang tersesat

karena kakinya terseok terkantuk parit saat berlari!

.

Kemudian kau memintaku membacakan syair...

Maka aku bacakan syair seorang pujangga yang hatinya remuk

karena cintanya mati terbentur karakter yang terlampau agung!

.

Karena kini aku adalah ketidakberartian..!

Saat aku baru saja membangun mimpi tentang kebahagiaan, gelap menyergapku lebih cepat dan menenggelamkan bayangan akan kemenangan dan keteduhan milikku.

Kelakpun kau akan mendapati rupaku, hanya mungkin kau dapati saat segalanya menjadi lebih baik untuk kembali meniti langkah dari pijakan awal… Dan lebih siap untuk kembali berlari pada helaan nafas yang pertama.

.

Namun Hei.!! Gerangan apa yang masih kau tuntut dariku? Setelah pengorbananku kau hempaskan pada ketidakberdayaan logikaku untuk berpikir dan hati untuk merasa! Karena nyaliku kini menciut! Kerdil..!! Dan membusuk teronggok waktu! Menjadi sampah masa lalu dan bayangan semu pada masa depan! Karena heii…!! Tak ada air mata untuk malam yang menjadikanku rapuh menatap pagi yang seharusnya indah!

.

Hanya sebuah cerita tentang kekalahan memilukan yang aku miliki!

Dan kau tak akan pernah percaya bahwa aku adalah pejuang yang baru saja pulang dari perang panjang yang memaksaku menanggalkan jubah kemenangan!

.

Saat segalanya terlalu memuakkan!

Aku hanya ingin bersembunyi sampai Tuhan menganggapku mati!!

Read more

Bangsatisme (II)

,
(Aku tidak pernah merasa sangat terjatuh dan terpuruk seperti ini.!!)

.

Usai kehilangan laptop, aku tidak menceritakan pada banyak orang tentang kejadiannya, hanya teman kosan dan dua orang orang teman lain.. Sejurnya aku tidak merasa sangat frustrasi usai kehilangan, ya karena memang laptop itu sudah hilang dan tidak mungkin ditemukan kembali, juga karena data yang hilang masih ada backup-nya di flashdisk (data lama), dan tentu karena tahun lalu aku pernah merasakan kehilangan laptop juga.

.

Tapi kemudian, tiba-tiba sesuatu terjadi dengan sangat frontal dan mengubah segalanya! Flashdiskku hilang..!! Astagfirullahaladzim… Pelajaran apa yang sedang Engkau tunjukkan padaku Tuhan... (?)

***

Pada hari dimana aku kehilangan laptop, malamnya aku ada kumpul di aula IMM untuk sharing dan memberikan arahan kepada kawan-kawan peserta School of Writer (SOW) IMM tentang kepenulisan. Saat itu flashdisk masih ada, aku hanya perlu untuk memindahkan data tulisan peserta SOW ke laptop Amel (koord. SOW). Usai kumpul aku kembali ke kosan, seorang kawan di Bandung menghubungiku dan menanyakan, “Aa hilang laptopnya?” Aku tersentak mendapat sms itu, segera aku telpon dan menanyakan dari mana ia tahu. Rupanya salah seorang kawanku membuat comment di FB menulis tentang laptopku yang hilang. Tanpa pikir panjang, dengan kaki yang masih pincang berjalan, aku berlari menuju warnet, dan segera aku hapus komentar itu. Ya, tentu saja karena komentar itu bisa dibaca orang rumah, sementara aku belum mengabari mereka.

.

Usai itu aku ke warkop untuk makan mie, dan pukul 12 malam di kosan, aku sudah bersiap untuk kembali melanjutkan menulis dari data lama yang ada di flashdsik. Belum sempat aku menyalakan laptop yang aku pinjam dari kawan dikosan, aku kaget karena flashdisk tidak ada di celana ataupun lemari!! O My God…!!! Hingga jam 1 malam aku mencari flashdisk itu, belum juga ditemukan. Sementara seisi kosan sudah aku acak-acak. (Dalam kondisi panik, seharusnya aku bisa membangun asumsi untuk menurunkan tensi stress, tapi kali ini tidak bisa, karena flashdisk itu terlalu penting!) Sampai jam setengah 2 aku hanya bisa duduk menekuk lutut dan bersandar di dinding kosan. Aku putuskan untuk menginap dikosan teman malam itu. Di kosan kawanku masih sangat ramai, belum ada yang tidur walaupun sudah jam 2 malam. Dengan sedikit gurauan dan segelas mocacinno aku coba menunda perasaan stress yang aku alami karena flashdisk yang hilang.

.

Esok paginya aku kembali ke kosan, dan dibantu teman sekosan aku kembali mencari flashdisk, tapi tidak juga ditemukan, kemudian aku cari di warnet, aula IMM, dan warkop, tetap tidak ada…!! Malam harinya, kembali aku cari… Dan tetap saja tidak ada!

.

Ya Allah… Aku menghabiskan waktu tiap malam untuk menuliskan catatan harian sejak 2009, dan novel yang aku buat sejak 2007… Lalu semua data itu hilang begitu saja saat aku masih bersemangat untuk menyelesaikannya..!! Astagfirullahaladzim…. Pelajaran apa yang sedang Engkau tunjukkan padaku Tuhan.(?)

.

Sejak kehilangan flashdisk, kondisi emosiku mulai tidak stabil! Aku hanya menghabiskan hari-hari di kosan kawanku yang juga psikologi, (3 tahun sebelumnya aku tinggal satu kos dengan mereka, maka setidaknya aku pikir mereka punya lebih banyak telinga untuk mendengar, dan logika untuk berdiskusi tentang banyak hal yang ingin aku ceritakan, mereka juga teman begadang yang solid). Sungguh tidak banyak yang bisa aku lakukan sejak kehilangan backup data terakhir (flashdisk). Emosi menjadi sangat labil… Menjadi mudah tegang dan tempramen! Dan perlahan mulai mudah panik pada beberapa kondisi! Seharusnyaminggu ini adalah jadwal bimbingan, tapi tentu untuk bimbingan aku harus mengetik ulang skripsi 46 halaman itu, (sampai BAB II).

.

Seolah badai ganas menghempas keras saat aku masih bersemangat berlayar mencapai tanah harapan!! Aku yang masih berjuang menyelesaikan banyak cita-cita, tiba-tiba diuji! Dibanting dan dilemparkan pada batu keras yang membuatku menjadi sangat rapuh untuk bangkit kembali.!! Aku membayangkan bagaimana aku menghabiskan tiap malam untuk menulis… Bahkan hingga subuh… Lalu pagi… siang… dan kembali malam… Aku hanya menulis! Skripsi, catatan harian, novel, dan karya tulis… Namun apa yang aku dapatkan hari ini? Tidak ada yang tersisa…

.

Percayalah bahwa saat bangun tidur yang aku lakukan adalah menuliskan mimpi yang terjadi semalam dan menginterpretasikannya secara psikologi, (aku sebut itu catatan mimpi), dan aku memulainya sejak Mei 2009… Lalu saat sebelum tidur aku selalu menulliskan apa saja yang baru aku alami… Siapa yang sedang aku pikirkan… dan apa harapan selanjutnya... Aku memiliki 3 catatan harian yang berbeda. Dan mulailah melanjutkan gagasan Unconscious Movement (judul novel!)

.

Lalu, bagaimana mungkin aku menuliskan kembali catatan-catatan harian yang sudah hilang! Bagaimana mungkin aku mengingat apa yang sudah lama terjadi dan menuliskannya berdasarkan emosi saat itu! Ya, karena semua momentum itu juga hilang! Aku pernah menulis dalam catatan harian, “Kelak akan aku tunjukkan catatan harian ini padamu… Kalaupun tidak, maka tentu cucuku ingin sekali membaca kisah kakeknya dulu…” Tapi, itu kemudian hanya menjadi sampah masa lalu! Tak ada yang bisa aku tunjukkan… Kecuali apa yang aku catatan saat ini dan selanjutnya.

*Rasa payah dan terpuruk itu aku ungkapkan dalam catatan, “Sembunyi Sampai Mati!”

.

Kini,

Aku rasakan waktu berputar sangat lama… Aku mencoba mengingat bagaimana aku menerima musibah ini secara beruntun sejak bulan lalu… Dimulai dari tabrakan motor yang terjadi di Serang, lalu minggu depannya aku terjatuh dari motor dan mengharuskan istirahat selama seminggu dirumah karena lukanya cukup parah, kehilangan casan laptop saat pulang ke rumah, beberapa barang pribadi rusak; Hp, motor, jeans..! Lalu ditilang polisi saat pulang hanya karena tak menyalakan lampu! Dan terakhir, laptop hilang..! Juga flashdisk… (backup data terakhir) justru ikut hilang…!! Astagfirullah…. Aku memohon maaf pada siapapun yang tersakiti atau aku pernah berbuat salah…

Aku berharap bisa kembali memulai segalanya dari awal…

.

Dan ya sudahlah!, Aku sudah memulainya! Aku siap…!!

Mari kita mulai semuanya dari awal…

Tak ada air mata untuk kepenatan dan kegagalan!

Hanya semangat dan batu loncatan untuk menjadi paripurna!

Karena memang Tuhan selalu punya cara untuk menyayangi hambanya!

*Aku teringat pesan Ali bin Abi Thalib, “Bersyukurlah atas musibah yang terjadi, karena bisa jadi ada yang lebih merasa kehilangan dari sekedar yang kau alami saat ini…” Ya, Alhamdulillah… Aku bisa belajar banyak dari musibah ini…Aku pun teringat lirik Cold play, “I Promise that I Learn from My Mistakes…!!”

.

Selamat berulang tahun diriku! =)

Selamat menemukan diri yang baru dan lebih tangguh!

.

-14 Juni 2011-

.

Read more
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Psycho Level 2 Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger