14 Agustus 2008

MANUSIA-MANUSIA KERETA


"Manusia-Manusia Kereta"

14 Agustus 2008
Ini adalah catatan dari sistem saraf pusatku ketika kereta menjebaknya untuk berpikir dan mencatat. Malam ini aku baru kembali dari Jakarta, ada rapat di kampus pagi tadi. Seperti biasa, aku menggunakan jasa kereta api untuk ke Jakarta, ke kampus lebih tepatnya. Aku makin terbiasa dengan suasana kereta, aku bahkan enggan untuk menghitung sudah berapa kali aku menginjak kereta, tapi yang pasti belum lebih dari 10 kali.. *ngitung*

Kereta yang aku maksud adalah kereta ekonomi, karena tak ada lagi jenis kereta lain yang lebih baik untuk jurusan Jakarta – Merak selain kereta ekonomi ini. Kereta masih menjadi alternatif sebagai alat transportasi, bisa dibayangkan, jika aku ke Jakarta dengan menggunakan bis, tiket bis adalah Rp. 18.000 sementara kereta hanya Rp 4.000, nyaris 5 kali lipat lebih mahal bis dengan waktu dan jarak tempuh yang sama. Kenaikan BBM tidak mempengaruhi pada harga tiket kereta. Tapi tahukah kau apa yang ditawarkan kereta dengan harganya yang murah?

11 Agustus 2008

Liputan Pertama


Minggu, 10 Agustus 2008-
Aku tiba dirumah magrib sepulang dari Anyer mengikuti Reuni Kelas Menulis Rumah Dunia. Saat di rumah aku ingat ini adalah hari minggu, dimana Radar Junior terbit setiap Minggunya. Aku ingin tahu apakah liputanku berhasil dimuat hari ini, atau akan ditangguhkan... Maka bergeges selesai mandi dan shalat, aku berlari membawa motor untuk mencari koran di kota Serang.
Semoga masih ada loper koran yang berjualan pada malam ini...
Dan ya, aku mendapatkan koran itu di salah satu loper di pusat perbelanjaan di Serang,
“Bang ada Radar Banten?” tanyaku
“Ni masih ada...” jelasnya
Maka aku buka saat itu juga bagian Radar Juniornya, dan...
Alhamdulillah... liputan pertamaku dimuat...
Liputan yang aku laporkan adalah tentang Ekskul SMPN 1 Ciputat, sebenarnya ada 2 liputan yang aku setor ke kantor, satu lagi tentang siswa berprestasi...
Tapi semua reporter tahu, seberapa banyak apa pun liputan yang mereka laporkan, itu tidak menjamin akan diterima oleh Redaktur dan dimuat...
Maka setelah mengetahui beritaku turun hari ini, aku segera kembali berlari membawa motor itu menuju rumah. Aku ingin tunjukkan pada Orang tuaku bahwa liputan pertamaku dimuat..
Alhamdulillah,
Banyak hal yang harus kita syukuri...
Dan banyak cara untuk melakukannya...

“Menulis Bukan Pilihan, Tapi Keharusan”


REUNI KELAS MENULIS RUMAH DUNIA
-Anyer, 9-10 Agustus 2008- Setelah sekitar minggu lalu mengikuti Pelatihan Jurnalistik di Radar Banten, kali ini ternyata aku bisa juga mengikuti kegiatan lain yang ga kalah seru dan penuh ilmu dan pengalaman pastinya, yaitu “Reuni Akbar Kelas menulis Rumah Dunia”. Acara ini berlangsung dari hari Sabtu-Minggu (9-10) kemarin di Anyer.
Hari pertama: Sabtu, 9 Agustus 2008
Setelah semalam ada kepastian izin dari boNyok (bokap-Nyokap-red) untuk ikut “Reuni kelas menulis”, maka aku merasa pagi ini cukup bersemangat untuk memulai hari. Sebenernya hari ini selain akan ikut reuni di Anyer, hari ini juga akan ada rapat proyeksi seperti biasa di Radar Banten. Maka setelah mendapat kabar kalo rombongan peserta reuni akan berangkatnya jam 1 siang, pagi hari sekali aku berangkat terlebih dahulu ke kantor Radar Banten untuk segera menyelesaikan berita yang aku liput di Ciputat beberapa hari sebelumnya.
Aku melaporkan 2 liputan untuk bisa diterbitkan hari minggu besok, yang tentunya apa yang dilaporkan oleh masing-masing reporter belum tentu dimuat di koran.
Pada jam 11-nya aku izin tidak ikut rapat proyeksi karena ingin segera ke Rumah Dunia.
***
Sekedar informasi ne: Rumah Dunia adalah pustakaloka yang didirikan oleh Gola Gong untuk menampung para pelajar (dan orang tua) yang ingin belajar banyak tentang menulis, menjadi jurnalis, membuat film, atau sekedar diskusi sastra dsb. Di sini banyak sekali terdapat buku dan fasilitas yang sangat mendukung untuk belajar. Aku sendiri ikut dalam kelas menulis angkatan ke-9, dan bergabung kembali di angkatan 10, hanya saja di angkatan 10 ternyata aku lebih banyak disibukkan di kampus, sayang sekali. Kelas Menulis sendiri adalah kelas yang dibuka bagi siapa aja yang ingin belajar menjadi penulis. Para peserta kelas menulis belajar setiap hari minggu selama 3 bulan dengan banyak fasilitas dan GRATIS!! Cukup daftar, mengumpulkan 1 cerpen, puisi, berita dan 1 buku, maka kita bisa ikut kelas menulis. Ini luar biasa, karena kita belajar menulis langsung dari para penulis atau para sastrawan, sebut saja Gola Gong yang telah menulis lebih dari 60 buku....
***
Di rumah dunia...
“Hei Ragen... kemana aja nih??” sapa salah seorang.
“Oh, ada aja koq...” jelasku berjalan mendekat.
Aku melihat ada beberapa orang di Rumah Dunia yang tengah duduk-duduk, sebagiannya tidak aku kenal, karena terakhir kali aku ke Rumah Dunia adalah April lalu saat menghadiri launching 6 buku Gola Gong.
Aku masuk ke perpusatakaan Rumah Dunia, dan aku melihat buku yang menarik tentang Che Guevara. Tapi setelah beberapa halaman membaca buku itu, aku putuskan untuk lebih baik keluar dan ikut mengobrol di halaman bersama emak-nya GolaGong yang sudah tua dan beberapa orang yang belum aku kenal.
“Siapa aja itu wi?” tanyaku pada seorang relawan Rumah Dunia.
“Itu Mas Ibnu ma Edang Rukmana...”.
“Oh... itu Mas Ibnu ma Endang Rukmana....” aku cukup kaget, karena melihat mereka yang jauh berbeda dari yang aku lihat difoto.
Untuk pertama kalinya aku melihat Ibnu Adam Avicena dan Endang Rukmana, keduanya angkatan 1 kelas menulis, dan telah menulis beberapa novel dan film layar lebar seperti “Lewat Tengah Malam” dan “Gotcha”.
Maka saat itu aku cukup antusias mendengarkan obrolan mereka, tapi kita lebih banyak mendengarkan cerita dari Mas Ibnu yang baru seminggu ini pulang dari Belanda untuk menyelesaikan S2.
Sekitar jam 1 siang, aku pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mempersiapkan keberangkatan ke Anyer, mungkin setengah atau satu jam lagi baru akan berangkat.
02.00 p.m
Dengan 3 angkot, 1 mobil perpus keliling dan beberapa motor, maka kita berangkat menuju Anyer. Mas Gong sendiri sudah ada di sana bersama keluarga sebelumya. Aku di dalam angkot bersama Mas Ibnu, Mas Endang dan 5 orang lainnya.
Selama perjalanan, Mas Ibnu banyak bercerita tentang kuliahnya di Belanda dan bagaimana kehidupan di negeri kincir angin itu, begitu juga Mas Endang yang mendapat beasiswa di UI. Aku mengenal Ibnu Adam Avicena sebagai seorang yang kritis dan akademis, aku mengetahuinya dari diskusi-diskusi di milis Rumah Dunia selama ini.
Selama perjalanan itu, Mas Ibnu banyak menceritakan tentang betapa makmur, disiplin dan akademisnya orang-orang di Belanda. Dari mulai tidak adanya pabrik di Belanda, gelandangan yang digaji, tidak ada pagar bagi rumah-rumah warga Belanda, kriminalitas yang rendah dan betapa orang Belanda sangat menghargai waktu. Yang jelas, sangat jauh keadaannya dengan Indonesia!!
Ada yang membuat kita terdiam sejenak ketika di tengah-tengah obrolan itu, salah seorang temanku yang berada di sebelah kiri tempat ku duduk membuang bekas gelas aqua ke jalanan. Dan tiba-tiba Mas Ibnu “marah”, “Kenapa kamu buang sembarangan sampah itu? Dari tadi saya selesai minum dan nih masih dipegang bekasnya. Di sana (Belanda-red) orang sangat menjaga kebersihan...!!”.
Hm, aku hanya tersenyum melihat Mas Ibnu yang begitu kritis terhadap lingkungan sekitarnya.
Jam 4 sore kita sampai di Anyer, tepatnya di rumah yang cukup luas dan berhadapan langsung dengan pantai Anyer..

-Villa tempat acara reuni berlangsung-

-Bermain di pinggir pantai sesaat setelah tiba di lokasi-
Jam 05.00 p.m
Acara reuni pun dibuka, dihadiri oleh sekitar 30 peserta, panitia, dan pemilik rumah yang mengundang Rumah Dunia ke tempatnya untuk ikut juga dalam launching rumah baca yang baru dibangunnya.

-Pembukaan reuni kelas menulis Rumah Dunia-
Di acara sore itu, masing-masing peserta mengenalkan diri (dan karyanya) kepada yang lain, dan dari sini aku baru tahu siapa aja yang selama ini pernah tergabung dalam kelas menulis Rumah Dunia dari angkatan 1 hingga 12. Sebagian besar dari kita sudah aktif dalam dunia tulis menulis, ada yang sudah menulis novel, menjadi reporter, wartawan, penulis skenario, penulis cerpen atau puisi dan penulis lepas lainnya di beberapa tabloid, koran atau majalah seperti majalah “Kawanku”, dan sebagainya. Aku sendiri ketika ditanya tentang kegiatan menulis... “Alhamdulillah saya selalu sempatkan menulis 1 sampai 8 jam setiap harinya, lalu sebagian besar saya posting di blogs, dan terakhir ini saya baru diterima magang di Radar Junior (Radar Banten-red) sebagai reporter”.
Yeah.... ini belum layak dikatakan rajin menulis!!.
Selesai Maghrib...
Kita semua berkumpul di ruang tengah, dan secara tiba-tiba Mas Gong mengadakan Sayembara untuk seluruh peserta reuni. Sayembara yang membuat kami sangat tertarik untuk ikut.
“Saya ngadain sayembara, saya ditawari membuat cerita tentang sinema romantis dari PH SinemaArt RCTI. Nah, mereka meminta saya membuat cerita untuk dijadikan skenario dalam Sinema Romantis RCTI. Jadi malam ini saya minta kalian membuat sinopsis tentang komedi romantis, dan yang terpilih akan ikut dalam writter team yang bertugas membuat sinopsis hingga skenario film. Gajinya lumayan nih... Kalo cerita kalian diterima oleh pihak SinemaArt...”
Wuihh... siapa yang ga mau coba... tapi sinopsis yang dimaksud Mas Gong aku belum paham seluruhnya... dan belum pernah aku membuat sinopsis, treatment apalagi skenario... Tapi tetap akan ku coba...
Jam 8 malam...
Kita ada penjamuan makan malam oleh pemilik rumah, tempatnya bersebelahan dari villa tempat kita tinggal. Hm, tempat yang sangat indah dan cukup luas. Dengan jajaran pohon kelapa yang banyak berdiri di halaman rumah, lampu-lampu hias di antara pohon-pohon itu, kolam renang dan terdapat danau kecil. Di tengah-tengah danau itulah penjamuan makan malam berlangsung.
Dan sesaat setelah kita sampai di tempat penjamuan itu, tiba-tiba kita disuguhi oleh pemandangan air terjun mini yang membuat tempat itu sangat indah.

-Ada yang Honger tuh.....-
Selesai makan malam, kita kembali ke tempat tinggal. Dan agenda malam ini adalah sharing angkatan, hadir juga di sini Ibu Iyut, sang pemiliki rumah yang akan sedikit bercerita tentang komunitas “Rumah Tukik” yang baru akan dibukanya besok...
Sharing pertama adalah dari Ibu Iyut, ia bercerita tentang betapa membaca itu sangat penting, dan ia ingin membudayakan membaca itu ditempatnya. Bu Iyut juga ingin sekali dapat berbagi dengan warga sekitar beberapa dari penghasilannya. “Saya tidak bisa tutup mata melihat nelayan di depan yang mendapatkan ikan hanya sedikit sekali, yang jika dibagikan untuk mereka makan pun tak akan cukup” jelasnya.
Lalu sharing selanjutanya adalah dari Mas Ibnu, ia mengutarakan tentang pengalaman studinya di Belanda, dan bagaimana ia bisa bergabung di Rumah Dunia sebelum berangkat ke Leiden Belanda untuk mengejar S2. Dan terakhir adalah sharing dari Pak Wid (penggagas World Book Day), tapi aku sangat mengantuk saat mendengarkan penjelasan ini, karena ini jam setengah 12 malam, dan cukup letih juga mungkin. Maka aku ke kamar dan tertidur...
Sekitar 30 menit kemudian aku terbangun, lalu aku putuskan untuk mandi terlebih dahulu agar tidurnya lebih nyaman, dan sepertinya aku terpaksa melewatkan kesempatan menulis sinopsis dari sayembara Mas Gong tadi, karena sangat mengantuk dan besok pagi harus sudah dikumpulkan sinopsisnya.
Selesai mandi, aku shalat isya di ruang tengah... dan aku melihat masih ada beberapa yang belum tidur, bahkan di luar ada yang tengah sibuk mengerjakan sinopsis, dan lebih “parah” lagi di meja luar satunya lagi, rapat redaksi KAIBON tengah berlangsung...
Selesai shalat niatnya mu langsung tidur, tapi karena ikut bergabung dengan yang sedang mengejar sayembara, ya udah, ga jadi ngantuknya. Dan ideku muncul untuk lebih baik mengikuti sayembara daripada tidur. Maka bersama 4 orang yang lain, di tengah teriakan ombak itu aku mulai menyusun kata–kata menjadi sinopsis...

-Mencari ide di tengah suara ombak-
Malam itu aku menyelesaikan 1 sinopsis hingga adzan subuh berkumandang...
Sinopsis itu aku beri judul: “Cintaku di Pembatas Buku”.
Selesai shalat subuh, aku, Salam dan Roy kembali bermain di pinggir laut... pagi yang indah di pantai anyer... dan kami berjalan-jalan hingga ke pantai di depan hotel Marbella...

Air laut pagi itu menggodaku untuk mengajak bermain di Pantai... Maka aku tak rela meninggalkan ajakannya... Maka jadilah aku dan Roy basah kuyup bergurau dengan ombak laut pagi itu....
07:00 a.m
Aku dan peserta lain yang ikut sayembara berkumpul bersama Mas Gong di halaman rumah untuk mendengarkan komentar dan hasil sayembara... Dan hasilnya, terpilih lah sekitar 12 orang yang berhak menjadi co-writter Mas Gong. Aku termasuk di dalamnya...treatment, lalu sampai menjadi skenario film dan diterima oleh SinemaArt, maka bisa dipastikan semester 6 aku bisa lebih dari hanya sekedar membayar uang kuliah sendiri..... Hm...... Alhamdulillah... aku merasa bersyukur mendapat kesempatan ini... walaupun aku belum pernah membuat treatment apalagi skenario film, tapi semuanya akan ku coba.... Insya Allah.... Alhamdulillah... Jika sinopsis aku ini selesai menjadi
Sekitar jam 10 semua peserta diminta untuk menghadiri pembukaan “Rumah Tukik”, sebuah taman baca masyarakat yang berdiri karena terinspirasi dari adanya Rumah Dunia, berjarak beberapa meter dari tempat dimana perserta menginap.

-Pembukaan Rumah Tukik-
“Tukik”, adalah nama anak penyu dalam bahasa masyarakat setempat... Ini terinspirasi dari kegiatan bu Iyut yang biasa melepas ribuan tukik (anak penyu) setiap tahunnya ke laut... Bu Iyut berharap dengan Rumah Tukik dapat membudayakan masyarakat sekitar untuk membaca dan berpikir kreatif.

-Penampilan dari anak-anak Rumah Tukik-
Siang harinya setelah pembukaan itu, kami dijamu makan siang di tempat itu juga... Dan diajak berjalan-jalan di sekitar lokasi. Selain taman baca, ada juga tempat pembuatan gerabah dan keterampilan angklung. Aku pikir sang pemiliknya memang cukup punya banyak uang untuk membangun segalanya.
Siang hari, kami kembali ke tempat tinggal. Akan ada pembahasan tentang Ode Kampus 3 siang ini. Ode Kampung adalah kegiatan temu sastrawan se-Indonesia selama 3 hari di Rumah Dunia, kegiatan ini dihadiri oleh para sastrawan dan penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Tahun lalu Ode Kampung 2 dihadiri oleh sekittar 300 orang peserta.
Pembahasan Ode Kampung 3 siang itu membahas seputar kepanitiaan, tema diskusi dan pemateri. Dalam pembahasan kepanitiaan Ode Kampung 3 ini, aku memilih menjadi divisi Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi. Dan pembahasan pun selesai hingga jam setengah 3.
Semua kegiatan selama reuni telah terlaksana...
Dan pada jam 3 sore, kami telah siap untuk menunggu mobil yang akan mengantarkan kami kembali ke Serang...

-Bersama Ibnu Adam Avicena dan Endang Rukmana-
--------------------------
Kawan, Aku sangat-sangat ingin sekali bersyukur...
Setelah minggu lalu diterima magang di Radar Junior, kali ini aku diterima menjadi co-writter Gola Gong.... Alhamdulillah....
Untuk co-writter ini aku diminta untuk membuat 2 treatment (pra-skenario) setiap minggunya... Insya Allah akan diusahakan dengan maksimal.
Sebelumnya, saat berkesempatan menjadi reporter, aku agak linglung, karena aku belum pernah menjadi reporter... Tapi alhamdulillah bisa juga, dan beritaku hari ini berhasil dimuat. Dan aku berharap moga menulis sinopsis dan treatmen ini juga bisa aku coba, walaupun belum pernah sekalipun sebelumnya...
Makasih Mas Gong, Mas Ibnu, Mas Endang, dan semuanya di Rumah Dunia...
Aku bangga menjadi bagian dari Rumah Dunia... (Ragen).

03 Agustus 2008

Menjadi Seorang Jurnalis

-->
“MENJADI SEORANG JURNALIS?!”
Sabtu, 2 Agustus 2008
Setelah hari Selasa dan Rabu kemarin gw ikut Pelatihan Jurnalistik dan dinyatakan magang di Radar Junior (Radar Banten). Hari ini gw dapet pengalaman yang baru dari awal sebuah pekerjaan. Jam 10 pagi tadi gw dah stay tunned di kantor Radar Banten, rencananya hari ini tu waktunya setor berita pertama dan rapat proyeksi (Redaksi-red) untuk pertama kalinya. Awalnya gw kira kita bakal rapat pagi-pagi banget, tapi ternyata pagi-pagi itu waktunya semua wartawan nulis berita di kantor. Dan rapatnya baru dimulai siang..
Karena enggak mau ketinggalan, terpaksa gw juga ikut nulis berita di kantor dulu, yang sebenernya dah gw tulis di rumah. Jadi tinggal nambah-nambahin aja berita yang dah gw dapet, dan gw juga sekalian pengen tau gimana proses penulisan berita di kantor...
Untuk pencarian berita, gw sempet kebingungan gimana cara ngedapetinnya... karena Rabu kemaren hari terakhir pelatihan jurnalistik, dan besoknya gw cabut ke kampus untuk rapat BEM persiapan ospek mahasiswa baru. Jadi hari Kamis ma Jum’at kemaren tu gw kan ada di kosan... Nah, setelah rapat BEM di hari kamisnya, baru gw persiapan untuk peliputan, dan gw harus dapet berita dari Tangerang untuk disetor besok. Gw sempet tanya ma tmen-temen yang berdomisili di Tangerang tentang apa aja yang bisa gw liput seputar dunia pendidikan atau dunia sosial.
Ada informasi yang bagus untuk gw liput dari temen gw yang tinggal di Ciputat, dan waktu gw nunggu dia di kosan untuk tau dulu gimana keadaan yang bakal diliput, eh dia kaga’ dateng ke kosan... Ahirnya gw coba hubungi yang lain lagi, tapi ternyata hasilnya ga ada, karena gw terlalu ngedadak minta infonya, walaupun ada yang ngasih gw beberapa tempat bagus untuk diliput di Tangerang.
Sampe jum’at siang gw ga dapet liputan juga, padahal jam 2 gw musti balik kejar kereta. Ahirnya gw kepikir untuk nulis profil kakak kelas gw di IMM yang berasal dari Serang. Gw aga lega bisa ketemu dia, tapi karena dia buru-buru mu balik juga, dia bilang profilnya bakal dikirm ke e-mail gw malem ini. Alhamdulillah itu lebih memudahkan... Maka jam 2 gw segera bisa pulang dengan jasa kereta api ke Serang. Selama perjalanan pulang itu, otak gw terus mikir, berita apa lagi yang bisa gw liput.. dan ahirnya kepikiran gimana kalo ngeliput tentang keadaan kereta api sebagai alat transportasi alternatif bagi masyarakat Banten?! Dan gw harus wawancara ketua perlintasan kereta api Serang.
Tapi, ampe mendekati Serang, niat itu gagal, karena gw khawatir terlalu berlebihan ngeliput perkereta apiaan... gw sendiri masih cukup bingung juga, hal kayak gimana aja yang bisa gw liput.... Terus kepikiran untuk ngeliput tentang penjualan tanaman hias di Taman Sari Serang, yang berjarak cuma beberapa meter dari stasiun Serang. Dan itu terlaksana.. Gw wawancara salah seorang penjual tanaman Hias di Taman Sari, gw pikir ini menarik, karena penjual2 tanaman hias di Taman Sari adalah baru.
Maka “Geliat Penjual Tanaman Hias di Serang” itulah yang gw setorin beritanya. Tapi lagi-lagi gw ngerasa sia-sia, karena gw sendiri ga tau itu masih masuk dalam lapangan peliputan atau bukan... dan gw ga optimal ngeliput tentang hal itu, salah satunya karena gw belum pegang kamera.
***
Oya lupa... ada yang menarik untuk gw ceritain dari sehari setelah acara pelatihan jurnalistik kemaren, tepatnya waktu gw dalam perjalanan menuju jakarta menggunakan kereta api. Pagi itu di kereta api gw beli koran.... Nah, ternyata di koran Radar Banten yang gw beli itu ada berita tentang “Pelatihan Jurnalistik”, dan disitu foto gw sebagai peserta pelatihan muncul... Hm, gw cuma senyum-senyum liat foto culun gw yang masuk koran.. hehe90x, pengen tu beberapa saat setelah tau gw ada di koran, gw bilang ama bapak2 yang duduk di sebelah gw di kereta, “Pak, coba liat siapa foto di koran ini?” hehehe...90x
***
Jam 01.30 p.m.
Kita mulai rapat proyeksi (atau rapat redaksi), jam setengah 2 siang di kantor Radar Banten. Rapat tadi ngebahas tentang informasi-informasi penting buat “reporter” yang baru magang di Radar Junior. Selain itu, kita langsung ngebahas tentang apa yang akan diberitakan minggu depan di Radar Junior?? Rapat berlangsung lancar dan berakhir pukul 03.15. Dan seperti biasa kita ditugasin ngumpulin berita minggu depan.
Alhamdulillah... gw bakal mulai pengalaman baru sebagai “reporter” ini dengan sebaik mungkin... dukung gw oke?! Pak Malik (Bos Radar Junior) bilang, “kalo kalian ga bekerja dengan baik, maka bisa dimutasi dari seorang “pencari berita” menjadi “pembaca berita...” SEREM kan?? Hehehe..90x Ca’yo.

02 Agustus 2008

Kembali ku menuliskan segalanya....

Puisi:


“Lari atau Mati”*
Menjelang pagi, kami berlari pada tong-tong minyak
yang tertawa memaku kami di sudut jalan.
Menjelang siang, kami berlari pada sumur-sumur kering
yang terbahak menekuk kami kehilangan minum hari ini...
Menjelang sore, kami berlari pada congkak rentenir
yang memaksa kami lupa makan malam ini...
Menjelang malam, kami berlari pada lapak-lapak pasar
yang menyisakan kami sayur kotor injakan anjing...
Menjelang mati, kami berlari dan semakin cepat berlari
menuju syurga yang tak sudi kami berikan pada pemimpin kami!!
“Bangsa Kami”
Galeri manusia purba yang buta akan cakrawala
Bungkam pada naluri kursi-kursi para pencuri
Berontak pada istri-istri yang lupa harga diri
Melipat nyali yang tak ujung pada tawa bayi
Kami kerdil dan tuli dimakan waktu
Biar malaikat menanam kami pada septic tank milik Tuan pagi ini
*Puisi "Lari atau Mati" dimuat di Radar Banten edisi Minggu, 03 Agustus 2008

Optimaze Your Left-Brain Power



“OPTIMAZE YOUR LEFT-BRAIN POWER,
83 Latihan untuk Mengoptimalkan Kekuatan Otak Kiri Anda”
Edwards B. Cohen, PhD. (Prestasi Pustakaraya, Agustus 2007)
Salah satu klaim paling penting tentang ilmu otak pada abad ke-20—bahwa otak orang dewasa tidak bisa mengembangkan neuron-neuron baru, ternyata salah! Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mark Rosenzweig dan Marion Diamond dari University of California Berkeley, membuktikan bahwa otak orang dewasa benar-benar bisa mengembangkan sel-sel dan koneksi-koneksi otak baru antara sel-sel yang telah ada dengan berbagai cara yang berbeda.
Buku ini menawarkan sinopsis penelitian otak mutakhir yang bisa diterapkan pada masalah-masalah dunia keseharian. Berbagai hasil penelitian ini kemudian diterjemahkan ke dalam latihan-latihan yang didesain khusus untuk mengembangkan potensi kekuatan otak kiri.
Memuat hampir seratus latihan yang dikelompokkan ke dalam beberapa kategori-misalnya permainan anagram, permainan aljabar, penyelesaian problematika, pemecahan sandi dan menebak bilangan yang akan muncul dan sebagainya.
Selain bermanfaat untuk merangsang neuron lama yang selama ini tidak dikembangkan secara sadar, buku ini juga menuntun pembaca untuk mengembangkan kemampuan otak kiri sampai pada tingkat yang maksimal.
Jadi, tak perlu berpikir panjang lagi untuk memaksimalkan potensi otak kiri, karena kini banyak latihan yang bisa kita lakukan untuk membantu neuron dan sel-sel otak kita membangun koneksi baru yang lebih baik.
*Dimuat di: RADAR BANTEN edisi: Minggu, 03 Agustus 2008

“Berburu Ilmu dan Pengalaman”

Pelatihan Jurnalistik Radar Junior 2008


Rabu, 30 Juli 2008-
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku ingin menuliskan segalanya. Sekalipun cukup mengantuk tapi ini cukup menarik untuk ditulis. Hari ini adalah hari terakhirku mengikuti Pelatihan Jurnalistik Radar Junior 2008 yang diadakan koran Harian Radar Banten khusus bagi mahasiswa. Pelatihan yang diikuti 47 peserta dari beberapa kampus di Banten ini berlangsung cukup meriah, bahkan ada juga peserta dari UGM, IPB dan tentunya dari UIN Jakarta.

Sebenerrnya ngga niat-niat amat ngikutin pelatihan ini, infonya berawal dari teteh yang jadi panitia Pelatihan Jurnalistik ini, dia dah lama di Radar Banten jadi wartawan mingguan Radar Junior. Dengan biaya pelatihan yang ngga murah juga, teteh bilang pelatihan ini bagus dan banyak hadiahnya, salah satunya karena acara ini punya banyak sponsor. Ya... ahirnya dari informasi tadi, nyokap bilang, “ikut aja iq, sayang tu ilmu, biar Ibu bayarin...”. Hehe.. Ya hayu atuh! Pasti mau ikut beginian mah, apalagi lagi libur yang ga da kegiatan.

01 Agustus 2008

Terjadi Pembantain Di kosanku

Terjadi Pembantaian di Kosanku!!
-Minggu, 20 Juli 2008-
Entah makhluk macam apa yang tega melakukan hal ini...
Aku berharap ada di antara kalian yang membaca ini dan berani melaporkannya pada pihak yang berwajib, karena aku tak berani melaporkannya seorang diri.
Ini lebih keji dari Nazi aku pikir...
lebih sadis...
Dan sangat tak masuk akal...
Ada banyak yang terluka ketika itu...
banyak darah di kosanku...
bahkan tak sedikit yang tewas!!
Pagi itu, sekitar pukul 10.45...
Suara gemuruh terdengar sangat gaduh dari belakang kosan.
“Jar suara paan nih??” Aku dan Fajar sedang berada di kosan kala itu.
Aku sedang membuat tulisan tuk diposting, sementara Fajar masih tidur-tiduran sambil mendengarkan musik. Suara itu makin gaduh dan jelas terdengar...
DDDDDRRRRRTTTTTTTHHHHHHHHHHHHH.................
Karena sangat mengganggu, maka aku segera keluar kosan dan melihat ke arah belakang kosan melalui jalan kecil di sebelah kosan...
Haa???
Aku melihat banyak asap mengepul dari belakang kosan...
KEBAKARAN??? APA YANG TERBAKAR???
Hatiku mulai was-was... Dan aku mulai curiga pada sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami...
“JAARRRRR............ KITA DISERANG!!!” Ya, asap itu bukan karena kebakaran, tapi ada yang sengaja menembakkannya ke arah kami... Tembakkan asap??!!
Aku dan Fajar bergegas menyiapkan diri, Aku ingat, guru kami Freud pernah mengajarkan kami tentang self defense mechanism. Ya, mekanisme pertahanan diri!!
Aku menutup barang2 berharga dengan kain seadanya, mengambil jemuran di luar dan menyimpannya di atas meja lalu aku tutup pula dengan kain dan sajadah... Lalu menutup gelas berisi air teh yang semestinya akan segera ku buat es teh manis... Dan bersiap!!
Aku keluar dan mulai bertanya pada seseorang tak dikenal yang berdiri mematung di depan kosan kami... Aku bertanya dengan sangat gagu... Karena aku melihat di belakang orang itu ada seorang tentara bersenjata lengkap, dan aku tak mengenal jenis senjata itu...
“Bang, ini sampe mana??” tanyaku.
“Semuanya aja...”
“Ha??”. Aku menyerah...
Dan tiba-tiba...
DDRRRRRRTTTTTHHHHH!!!!
WWUUUSSSSSSHHHHHH.......................
Asap mengepul dari senjata aneh itu dengan sangat cepat...
AHHHHHHHHHHH................... Kosan kami diFOGGING!!!

- Seorang tentara dengan Kaliber AK-Fogger 20-
Aku dan Fajar melarikan diri menuju Warung Kopi, Ya, untuk menenangkan diri di sana. Tapi ternyata Warung Kopi yang hanya berjarak beberapa meter dari kosan kami pun tak luput dari penyerangan.....
“Biarlah Bal... kita tunggu di sini dulu, sayang tu asapnya kalo pintu kosan ga ditutup”
Hm.. aku mulai curiga Fajar terlibat dalam konspirasi pembantaian ini. Dengan pintu kosan dibiarkan tertutup, itu akan memudahkan makhluk-makhluk di dalam kosan tewas!! Dan dengan dalih untuk mengisi perut, dia menipu dan mengalihkan perhatianku dari makhluk-makhluk di kosan yang pastinya telah tewas dengan sangat tidak wajar!!
Setelah menyantap mie kuah di warung kopi, kami kembali lagi menuju kosan. Ketika itu asap di dalam kosan mulai menipis. Dan........
AAAHHHHHHHHHHHHH...............................
Benar saja, Ini Pembantaian!!!
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri semut hitam terseok-seok di antara lantai kosan...
Nyamuk-nyamuk mati mengenaskan, cacing di kamar mandi... kecoak????? Cecurut?????
Mereka semua pasti butuh bantuan....??? Ambulan????? PMI?????
Ahhhh............ Terlambat! Mereka semua telah tewas... Ini Pembantaian!!
Hiks............ hiks.......... hiks................
Aku hanya bisa menangisi kepergian mereka..
---------
Aku berharap ada diantara kalian yang membaca ini dan berani melaporkanya pada pihak yang berwajib??!!! Karena aku yakin, Tuhan tidak rela melihat makhuknya terbunuh!!!
Diberdayakan oleh Blogger.