18 Desember 2008

Mati Suri dalam Kajian Psikologi Islam



Catatan dari Kajian Forum Pengkajian Psikologi Islam 
(11 Desember 2008)

Mati Suri, dapat diartikan sebagai keadaan di mana seseorang dihidupkan kembali setelah mengalami kematian (secara fisiologis). Istilah mati suri tidak serta merta hadir tanpa adanya penjelasan, istilah ini muncul justru karena terjadi di sebagian kecil masyarakat kita. Dan karena kita semua pun paham bahwa definisi hadir karena suatu kondisi?!

Saya bisa ceritakan sedikit kisah tentang mati suri yang sedikit banyak saya ketahui untuk kemudian mengkajinya, beberapa kisah tersebut berasal dari majalah hidayah, buku dan kisah dari seorang teman dan guru. Entah benar atau tidak semua kisah tentang mati suri tersebut, tapi bagi saya jika hal ini bermanfaat dan memberi pelajaran, maka tak ada salahnya saya mempercayainya dan lebih jauh mengkritisi untuk mengkajinya lebih dalam.

Suatu kali salah seorang pemuda di suatu daerah dinyatakan meninggal secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, baik penyakit atau apapun itu. Maka keluarga sangat terpukul dengan kematian salah seorang anggota keluarganya tersebut, namun mereka pasrah dan menerima kenyataan yang dihadapkan Tuhan kepadanya. Dilaksanakanlah prosesi pemakaman dan dikuburkannya pemuda itu di salah satu tanah pekuburan. Sejak kematian itu, maka di rumah almarhum, diadakan yasinan dan pembacaan do’a demi keselamatan arwah yang meningal. Namun secara mengejutkan, pada beberapa hari setelah kematiannya, tiba-tiba pemuda yang meninggal itu muncul di hadapan orang-orang yang sedang mendo’akannya. Mereka kaget bukan kepalang, namun “almarhum” bisa menjelaskan bagaimana ia bisa dihidupkan kembali setelah mengalami kematian. Rupanya ia memang mengalami proses kematian, dan proses dihidupkan kembali ke dunia. Ia melihat keadaan di alam kubur, bertemu malaikat hingga pada akhirnya makamnya digali oleh seseorang karena mendengar teriakan tolong dari dalam kubur. Malaikat yang ditemuinya mengatakan (kurang lebih), “Kamu masih muda untuk dipanggil oleh Allah, perbaikilah amalanmu dan perintahkan manusia untuk shalat dan beramal shalih”.

Ya, kurang lebih seperti itu, dan setiap orang yang mengalami mati suri, sikapnya banyak berubah dari keadaan sebelumnya, artinya jauh lebih baik karena rupanya ia memaknai jauh lebih baik tentang kehidupannya dibandingkan manusia-manusia yang tidak pernah mengalami bagaimana rasanya “mati”.

Lalu bagaimana psikologi menjelaskan hal ini?? Apa pendekatan yang mungkin untuk menjelaskannya?? Apakah fenomena ini pada hakikatnya hanya terjadi karena (menurut Bu Rena) distorsi-distorsi dalam pikirannya?? Apakah juga mati suri hanya khayalan-khayalan manusia yang berlebihan karena faktor tekanan-tekanan dalam menghadapi permasalahan hidup?? Ataukah ini fenomena suprarasional sehingga terlalu jauh psikologi untuk bisa menjelaskannya??

Bilakah ini masih mungkin dibahas oleh Psikologi, maka saya perumpamakan mati suri sebagaimana halnya mimpi saat manusia tidur. Persamaanya adalah, mati suri dan tidur sama-sama manusia yang berada dalam keadaan mati. Pengalaman tidur adalah mimpi dan pengalaman mati suri adalah perjalanan kematian yang luar biasa. Mati suri dan mimpi juga sama-sama menjelaskan fenomena tentang manusia yang dihidupkan kembali.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan [*]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (QS. Az-Zumar: 42).
[*] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

Menurut Utsman Najati (2000), mimpi merupakan aktifitas mental yang beroperasi ketika seseorang tidur. Dalam tidurnya itu dia melihat berbagai gambaran atau kejadian. Namun sejauh yang dapat dikaji oleh psikologi tentang mimpi, saya belum mendapatkan bahasan yang lebih jelas seperti yang pernah dibahas oleh Freud dalam “The Interpretastion of Dream”,. Freud menjelaskan bahwa mimpi terkait erat dengan realitas. Bagi Freud, mimpi merupakan suatu konsep mekanisme dari represi, di mana muatan represi tersebut adalah sebuah trauma seksual. (Untuk muatan represi dalam mimpi ini, Jung memiliki pendapat berbeda dengan gurunya tersebut).

Tentang hal ini saya tidak bisa sepakat dengan Freud. Dia memandang penyebab dari represi adalah trauma seksual, namun berdasarkan praktek yang saya jalani, sangat sering saya menghadapi kasus-kasus neurosis di mana masalah seksualitas memainkan peran subordinat, dan faktor-faktor lain yang justru mengedepan—misalnya, problem adaptasi sosial, tekanan dari keadaan tragis kehidupan seseorang, pertimbangan gengsi, martabat dan sebagainya. (Jung, 1989)

Lalu, Freud juga menjelaskan bahwa mimpi adalah keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam alam nyata kesadaran manusia. Jadi keinginan itu terwujud dalam ketidaksadarannya ketika manusia berada dalam tidurnya, yaitu berupa mimpi.

Jika mimpi adalah mekanisme represi manusia, maka apakah itu berlaku juga bagi perjalanan individu yang mengalami mati suri?? Bahwa orang yang divonis mati suri dan telah mengalami perjalanan kematian adalah orang-orang yang hanya memiliki tekanan-tekanan berat dalam hidup. Atau orang yang memiliki keinginan-keinginan besar yang tidak tercapai dalam dunia nyata, sehingga ia membawanya menuju alam ketidasadarannya, yang ini berarti sama dengan mekanisme mimpi. Atau dalam penjelasan Bu Rena sebelumnya bahwa ia mengalami distorsi-distorsi.

Jika pun demikian, maka pendekatan kognitif sebagai pendekatan yang dianggap dekat untuk menjelaskan fenomena mati suri, hanya berujung pada penjelasan bahwa mati suri terjadi hanya karena penyimpangan kognisi, atau proses kognisi ketika sadar yang tidak mampu menerima realitas?? Pertanyaan besarnya adalah, apakah orang yang mati suri kognisinya masih hidup?

Mimpi merupakan bentuk dari fungsi kognisi, atau sebagian menyebut bahwa manusia berpikir dalam tidur ketika bermimpi. Namun tampaknya itu tidak terjadi pada orang yang mati suri, orang yang mati suri ketika mengalami perjalanan kematian, kondisi kognisinya juga telah mati. Karena orang yang mati suri divonis mati secara fisiologis yang artinya tidak ada fungsi tubuh termasuk otak yang dapat bekerja lagi. Maka berdasarkan pemahaman tersebut, pada akhirnya kita sulit untuk menjelaskan bagaimana mungkin perjalanan mati suri dapat terjadi pada proses fisiologis yang telah mati?! Fisiologis manusia masih berfungsi ketika mimpi, namun tidak ketika mengalami mati suri.
Ataukah mungkin ada pendekatan lain selain kognitif dan psikoanalis dalam psikologi untuk menjelaskan fenomena mati suri? Saya belum mendapatkannya. Maka pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa psikologi tidak (atau belum) bisa untuk menjelaskan fenomena mati suri yang sebagian kecil terjadi di masyarakat kita. Sebagai kesimpulan, saya gunakan penjelasan Jung dalam bukunya “Memories, Dreams, Reflrections” pada bab “Tentang Hidup Setelah Mati”, sebagai berikut:

“Mungkin seseorang harus pernah terlebih dahulu dekat dengan kematian untuk tahu pentingnya kemerdekaan membicarakan hal itu. Bukannya saya berharap kita pernah hidup setelah mati. Sebenarnya saya pun lebih senang untuk tidak mengembangkan pemikiran-pemikiran semacam ini. Meski demikian, saya tetap harus mengatakan untuk memberikan hak sepantasnya bagi realitas, bahwa tanpa perlakuan dan perlakuan saya tentang persoalan ini, pikiran-pikiran itu tetap akan bergerak dalam diri saya”.

Jung menambahkan di bagian lainnya,
“Dewasa ini kebanyakan manusia mengidentifikasi diri mereka hampir semata-mata berdasar kesadaran mereka, dan membayangkan bahwa mereka hanyalah apa yang mereka ketahui tentang diri mereka. Namun demikian, siapa pun bahkan yang dangkal pengetahuannya tentang psikologi dapat melihat betapa terbatasnya hal ini. Rasionalisme dan doktrinerisme adalah penyakit zaman sekarang; keduanya berlagak memiliki semua jawaban. Akan tetapi lebih banyak hal lagi yang akan ditemukan di mana pandangan kita yang terbatas akan menganggapnya kemustahilan.” (C.G. Jung, 1989)
--------Wallahu a’lam.
Beberapa referensi, sebagai pertimbangan:
  • Jung,. C. G. (2003). “Memories, Dreams, Reflections”, pentj. Apri Danarto dan Ekandari S. (Yogyakarta: Jendela),.
  • Najati,. Muhammad Utsman. (2000). Psikologi dalam Tinjauan Hadits Nabi. (Jakarta: Mustaqiim).

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.