14 Maret 2013

Sengkarut Anas..



Jumat, 15 Maret 2013

Tahun 2009, Anas pernah menulis buku tentang SBY berjudul, “Bukan Sekedar Presiden”. Buku itu menggambarkan bagaimana Anas sangat mengagungkan SBY, kala itu Anas belum jadi ketua umum Partai Demokrat. Lalu aku membayangkan andai tahun ini Anas kembali menulis buku tentang SBY, kira-kira apa ya judulnya?

Konflik di internal Partai Demokrat sudah sedemikian sengkarut. Setidaknya dimulai dari beberapa kader yang menjadi tersangka, dan puncaknya saat ‘para sengkuni’ menyusun skenario pelengseran Anas dari kursi ketua umum. Skenario itu pun berhasil, Anas benar-benar lengser namun luar biasa meradang Anas dan para loyalis yang selama ini mendukungnya.

Badai pun menjadi makin kuat membentuk arus di internal Partai Demokrat. Sampai titik ini aku menilai “Partai Demokrat bertanggungjawab besar atas sikap antipati dan ketidakpercayaan masyarakat pada partai dan negara!”

Sebetulnya badai yang menimpa Partai Demokrat tidak perlu sekencang yang terjadi saat ini, andaikata tak ada ‘skenario pelengseran Anas’. Tapi inilah politik, politisi selalu punya hitungan politik sendiri. Sayangnya, mereka lupa bahwa bola terlihat bundar itu dari luar, bukan dari dalam.

Lihat bagaimana Anas menyatakan BERHENTI dari Partai Demokrat  pada 23 Februari lalu: “Standar etik pribadi saya kalau saya punya status hukum sebagai tersangka, maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat,” kata Anas.

Kata berhenti ini yang menjadi sengkarut kedua Partai Demokrat. Cerdasnya Anas menggunakan kata berhenti (Anas yang mantan komisioner KPU dan matang di organisasi tahu betul bagaimana mengganjal partai dengan pilihan kata berhenti). Apa penjelasan Anas soal berhenti ini?

Dalam wawancara di salah satu radio, Anas menganalogikan: “Berhenti itu seperti ini.. (menunjukkan telapak tangan berdiri di depan), kalau mundur itu ini.. (telapak tangan dimundurkan). Saya berhenti bukan mundur.. (mengembalikan posisi telapak tangan berdiri di depan),” kata Anas cerdas mengisyaratkan ia masih dalam posisinya sebagai ketua umum tapi 'dimatikan'.

Setidaknya kata berhenti itu digunakan Anas untuk mengganjal Kongres Luar Biasa (KLB) yang menjadi momen pergantian dirinya. AD/ART Partai Demokrat menyatakan hanya ada 4 hal untuk menggantikan Anas, (pasal 4): 1. Meninggal dunia, 2. Mengundurkan diri secara tertulis, 3. Menjadi anggota partai politik lain, 4. Melanggar AD ART. Yang mana Anas? Tidak diatur dalam AD ART.

Jika kata berhenti itu tak cukup untuk mengganjal KLB Partai Demokrat. Maka lihat bagaimana Anas membuat arus balik dan melawan ‘skenario pelengseran’ dengan skenario yang disebutnya sebagai ‘halaman pertama’:

“Ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini saya nyatakan ini baru permulaan. Ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Ini baru halaman pertama, masih banyak hal lainnya yang kita buka bersama untuk kebaikan bersama,” ucap Anas.

Halaman berikutnya inilah yang dinantikan media dan internal Partai Demokrat. Dugaanku Anas akan menjadi Nazaruddin jilid 2, Anas masih punya kartu Joker. Maka halaman berikutnya yang dimaksud adalah terkait kasus hukum yang belum pernah disebut KPK.

Tapi pertanyaannya, apakah Anas benar-benar bersalah dan korup dalam sengkarut ini?
Hal ini tak perlu ditanyakan, jangan terkecoh dengan politik ‘tertindas’ Anas. Setelah ditetapkan sebagai tersangka berboyong-boyong tokoh-tokoh nasional mengunjungi rumah Anas dan memberi simpati seolah-olah Anas orang yang tertindas. Ah, bullshit! Koruptor tetap koruptor.

Informasi terbaru, rupanya Partai Demokrat benar-benar akan menggelar KLB, (setelah ‘lobi’ ke KPU soal penetapan Daftar Caleg Sementara (DCS) tak bisa ditandatangani Plt ketua umum). KLB akan digelar tanggal 30-31 Maret di Bali. Lalu, saat masalah internal sudah sedemikian sengkarut dan berbelit, otoritas SBY di Demokrat pun tak bisa diandalkan, apa yang akan terjadi? Let’s see..

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.