16 Maret 2013

Catatan Jurnalis #1


"Menulis dengan Waktu"

-Redaksi detikcom-

07  Maret 2013
Tepat setahun lalu (6 Maret 2012) adalah hari pertamaku bekerja sebagai jurnalis di detikcom. Ada banyak hal yang aku dapat, pun banyak yang tak aku suka selama bekerja hingga saat ini. Aku akan ceritakan dalam beberapa postingan #catatan jurnalis.

Sebelum bercerita, perlu diketahui bahwa model jurnalis itu berbeda-beda, tergantung medianya (aku bicara dalam skala nasional). Ada media: (1). Televisi, (2). Koran, (3). Majalah, (4). Online, dan (5) Radio. Aku bekerja pada media online, detikcom. Karena media online, maka kami memiliki pola kerja yang berbeda dengan media lain.

Kekuatan media online paling utama adalah “kecepatan”. Ya, seberapa cepat dalam menghadirkan breaking news. Jika ada media online yang telat menuliskan berita, media itu pasti ditinggal! Itulah mengapa detik punya slogan: update banget!. Memang di situ kuncinya. Itu juga yang menjadikan detik dibuka lebih dari 40 juta kali dalam sehari.

Soal kecepatan ini, aku kasih contoh:
[Liputan di DPP Demokrat] - Saat itu Anas Urbaningrum baru saja naik podium untuk memberikan sambutan soal seminar Tomcat. Kantor meneleponku, ‘Bal, Anas ngomong apa aja?’ Aku bilang, Anas baru aja naik podium belum ada yang diomongin. ‘Ya dah kamu dengerin ngomong apa dia?’. (apa yang Anas sampaikan langsung aku sampaikan via telfon ke redaksi). Sekitar 5 menit, klik! Telfon ditutup. Tak lama, saat Anas masih berada di podium, berita sudah naik

Cerita lainnya saat terjadi Gempa di Jakarta, gempa itu terasa sampai di kantor. Tak perlu menunggu intruksi, salah seorang redaktur yang juga koordinator liputan menuliskan berita gempa saat gempa masih terasa. 5 menit. Klik! Berita sudah naik. “Gempa Guncang Jakarta”. Inilah media online, kami bekerja dengan waktu.

Karakter media online berikutnya, running!
Ada yang mengkritik kelemahan media online adalah informasi yang kurang lengkap. Kritik itu bisa jadi benar, tapi juga harus paham bahwa media online memiliki karakteristik running. Media online berbeda dengan koran yang harus menyajikan informasi lengkap dalam satu judul, bukan juga televisi yang harus lengkap dengan gambar. Running yang dimaksud adalah setiap berita itu bergulir sehingga tak harus menunggu data lengkap untuk dipublikasikan.

Contoh: ‘Ada peristiwa tabrakan antara BMW dengan Luxio. Informasi masuk kejadian pukul 03.15 WIB, maka saat itu juga dibuat berita pertama peristiwa tabrakan. Kemudian ada update 15 menit kemudian, bahwa ada korban meninggal 2 orang, maka ditulis berita kedua. 1 jam kemudian update lagi pengendara ditahan di Polsek, dibuat berita ketiga. Beberapa jam kemudian diketahui pemilik BMW adalah anak menteri, jadi berita keempat. Dan seterusnya.

Nah, rangkaian berita itu kalau media cetak seperti koran, maka tentu dibuat dalam satu judul. Media online? Dia running sesuai dengan update berita. Jadi bisa dipahami bukan informasi yang kurang lengkap, tapi sedikit apapun informasi kalau itu sudah cukup untuk dinaikkan menjadi berita, maka harus dibuat. Itulah mengapa orang yang mencari berita update tidak akan menunggu koran terbit besok, tapi dia akan cek di media online. Banyak lagi sebetulnya karakteristik media online, tapi dua itulah yang paling utama.

Balik lagi ke profesi wartawan. Semua wartawan (khususnya online dan koran), mereka akan bekerja dengan ditempatkan di satu pos tertentu. Misal, liputan pos DPR, KPK, Mabes Polri, Istana, atau wilayah (Jaksel, Jakut dll). Namun saat pertama kali masuk, semua wartawan akan bekerja dengan sistem floating, belum ditempatkan di satu pos tertentu.

Dulu, saat aku masih bekerja untuk Radar Banten, wartawan-lah yang mencari berita (mungkin di semua daerah sama). Tapi dalam skala nasional, agenda wartawan ditentukan oleh koordinator liputan. Nah, mereka yang masih floating akan diberitahukan malam atau pagi harinya agenda apa yang akan diliput. Bisa berupa konferensi pers atau peristiwa.

Floating mengharuskan wartawan menguasai semua berita dan isu. Hari ini bisa liputan konferensi pers politik, besoknya bisa berganti liputan peristiwa kecelakaan, besoknya bisa ambil agenda sidang di pengadilan dan seterusnya. Maka kelebihan floating adalah menguasai semua isu berita, tak boleh ada isu yang tertinggal. Baca semua berita, pahami isu dan cepat melaporkan berita! Itu kuncinya untuk memulai karir sebagai wartawan.

Nah, dalam “masa floating” inilah akan terlihat mana yang sungguh-sungguh ingin menjadi wartawan mana yang hanya coba-coba. Aku ingat kawanku (perempuan) ia hanya bertahan 1 minggu, lainnya 1 bulan bahkan ada yang hanya 3 hari kemudian resign. Tidak mudah memang menjadi wartawan. Bagiku, bisa bertahan hingga saat ini adalah ujian yang tak mudah untuk dilewati.

---
Selanjutnya: "Dari Pilgub DKI ke Gedung Parlemen"

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.